TJIMANOEK.COM, Jakarta – Stasiun antariksa International Space Station (ISS) hingga kini terus beroperasi, terutama karena adanya dukungan dari Rusia dan Amerika Serikat. Namun dengan adanya ketegangan yang terjadi di Ukraina karena adanya invasi Rusia bisa menimbulkan dampak buruk bagi ISS.
Badan antariksa Rusia, Rocosmos, telah menyatakan bahwa kemungkinan mereka hanya akan mengoperasikan ISS sampai dua tahun lagi. “Untuk memperpanjang kesepakatan dalam kondisi semacam ini membuat kami skeptis,” sebut mereka.
Peran Rusia sangat penting di ISS, di mana Rusia melakukan pengendalian beberapa aktivitas, antara lain: laboratorium kunci, mengirimkan suplai dari Bumi, bahkan juga mengatur ketinggian stasiun itu yang mencegahnya meluncur ke Bumi.
“Kita harus menghabiskan banyak uang untuk membuat hal itu terjadi,” kata periset antariksa dari Secure World Foundation, Brian Weeeden, yang dikutip dari Politico.
NASA sendiri menyatakan sejauh ini operasional ISS tidak terdampak dengan ketegangan yang terjadi di Ukraina. Adapun kru yang bertugas di ISS saat ini adalah empat orang dari AS, dua orang dari Rusia dan seorang astronaut asal Jerman.
Namun jika nantinya Rusia benar-benar menarik dukungannya dari ISS, bukan tidak mungkin ISS akan dihancurkan saja karena seperti disebutkan, sumber daya untuk mempertahankannya terlalu besar tanpa keterlibatan Rusia.
Seperti kita ketahui bahwa ISS diluncurkan pertama kali pada tahun 1998, melibatkan Rusia, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Artinya, stasiun luar angkasa tersebut sudah digunakan secara terus-menerus, selama lebih dari 23 tahun dan mulai menunjukkan berbagai permasalahan. Stasiun ini dipandang sudah usang dan akan digantikan dengan unit baru yang lebih canggih.
(Adit / TJIMANOEK)















