TJIMANOEK.COM – Sudah sangat lama saya tidak menyaksikan Timnas Indonesia (sepak bola) berlaga. Kita tahu, covid-19 menyerang seluruh negara, sehingga kegiatan sosial maupun olahraga harus terhentikan. Tak terkecuali sepak bola.
Saya mulai kembali menyaksikan Timnas Indonesia pada penyisihan group, yaitu Indonesia versus Malaysia. Timnas kita berhasil mengalahkan Malaysia dengan skor 1-4 sehingga lolos ke semifinal sekaligus menjadi juara group B.
Pada saat melawan negara tetangga, Timnas Indonesia bermain baik. Saya lihat ada Arhan Pratama, Witan Sulaeman, Irfan Jaya dan banyak lagi yang lainnya. Kesemuanya bermain dengan baik.
Begitupun saat bertemu Singapura di leg pertama semi final. Timnas Indonesia berhasil unggul lebih dahulu. Namun sayang, Singapura berhasil mencetak gol penyeimbang. Peluit panjang sang wasit ditiupkan, laga leg pertama itu berakhir imbang 1-1. Saya kecewa saat itu, tetapi tetap optimis di laga kedua Indonesia bisa menang.
Benar saja, Timnas Indonesia berhasil menang melawan Singapura. Hasilnya kalian pasti sudah tahu: 4-2. Permainan yang penuh emosional dan drama-drama. Ada tiga pemain tim lawan diganjar kartu merah oleh wasit asal Oman.
Dengan 10 pemain, Singapura berhasil unggul setelah menyamakan kedudukan di akhir-akhir babak pertama. Timnas tertinggal 1-2. Tegang lagi.
Alhamdulillah, Arhan menyeimbangkan keadaan dengan skor 2-2 di menit ke 87’. Namun tidak lama, tim Singapura memperoleh tendangan pinalti pada menit 90’.
Sang kiper, Nadeo Argawinata amat briliant, tendangan pemain lawan berhasil dimuntahkan. Singapura gagal unggul. Kemudian terjadi insiden lagi: kartu merah untuk pemain Singapura yang kedua kalinya.
Indonesia unggul pemain. Tim Singapura hanya bermain dengan sembilan pemain. Tetapi, saat itu Indonesia masih kesulitan untuk mencetak gol.
Saya sebagai penonton seperti tidak bisa tenang. Karena pejaga gawang dari Singapura sangat gemilang. Ia selalu memuntahkan tendangan pemain Indonesia. Namun ada situasi yang tidak menguntungkannya. Sang kiper menghalau peluang emas pemain Indonesia. Dijatuhkannya, kemudian diganjar kartu merah.
Habis sudah pemain Singapura. Dalam satu laga, tiga pemainnya diusir dari lapangan pertandingan. Bernar-benar laga yang menguras energi, mental, serta emosional. Tidak saja bagi pemain, penontonpun ikut terbawa suasana di lapangan Nasional Singapura (National Stadium, Singapore).
Dengan delapan pemain Singapura, timnas kita masih tidak dapat menambah pundi-pundi golnya. Tidak apa-apa karena saya melihat ada mentality yang kuat di tubuh pemain timnas. Disaat-saat kondisi tertinggal, pemain kita tetap sabar dan tenang meskipun sering melakukan pelanggaran.
Gagal Juara AFF Suzuki Cup 2020
Leg pertama final antara Timnas Indonesia vs Thailand digelar di National Stadium, Singapura pada, Rabu, 29 Desember 2021. Arhan Pratama tidak bisa ikut membela timnas saat itu karena akumulasi kartu kuning. Terpaksa, Arhan digantikan pemain lain oleh Shin Tae Yong.
Pemain Thailand turun dengan kekuatan full squad (kekuatan penuh). Ada Chanatip, Terasil, dan banyak lagi. Untuk postur tubuh rata-rata pemain Thailand sedikit lebih unggul (tinggi) ketimbang pemain Indonesia. Tetapi kita harus bangga, sebab pemain Timnas Indonesia termasuk tim yang pemainnya berusia muda kedua di ajang Aff Suzuki Cup 2020.
Hasil leg pertama Indonesia vs Thailand berakhir mengecewakan bagi masyarakat Indonesia. Thailand berhasil mengalahkan Timnas dengan skor 0-4. Tidak heran jika hasilnya sebegitu besarnya karena pemain Thailand saat itu bermain sangat baik. Pemain timnas hampir tidak mendapatkan bola. Ball position (penguasaan bola) nya sangat tidak imbang. Thailand unggul permainan.
Saya ingat betul dan masih membekas bagaimana tim Thailand membobol gawang timnas diawal kick off babak pertama. Bayangkan saja, hanya dalam waktu satu menit gawang Nadeo (kiper timnas) kebobolan. Saya rasa tidak perlu menjelaskan lebih lanjut. Kalian pasti sudah menyaksikan langsung melalui layar televisi/ laptop sampai handphone kekalahan tragis timnas itu.
Di leg kedua final Thailand vs Indonesia, timnas bermain ngotot sehingga berhasil mencetak gol di menit-menit awal pertandingan. Pemain pencetak gol itu adalah Ricky Kambuaya. Kambuaya masih berusia 25 tahun dan bermain untuk Persebaya Surabaya. Ia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik piala AFF 2020.
Hasil laga penentu ini tidak buruk-buruk amat jika dibandingkan pada leg pertama. Kali ini timnas Indonesia mampu menguasai bola. Karena pada pertandingan sebelumnya 0-4, maka pemain Indonesia harus mampu memenangkan leg pertama dengan skor 0-5. Skor sebanyak itu membuat kebanyakan supporter (pendukung) garuda muda pesimis. Apalagi berhadapan dengan salah satu tim terkuat se-Asia.
Sang garuda muda berhasil memberikan hasil yang terbaik dengan menahan imbang Thailand 2-2. Itu sudah baik. Setidaknya kita tidak kalah di pertandingan leg kedua. Namun apa daya, selisih skornya sangat jauh, yakni: Indonesia 2-6 Thailand. Tim Thailand menjuarai piala AFF 2020. Indonesia harus puas di posisi runner up/kedua (lagi). Lalu kapan kita (Indonesia) dapat menjuari pagelaran sepak bola di Asia? Jawabannya kompleks tidak bisa dilihat pada satu hal seperti strategi bermain. Melainkan ada faktor gizi, postur, serta skill (kemampuan si pemain)—butuh waktu yang sangat lama. Itu semua menjadi kunci kesuksesan persepak bolaan Indonesia. (Panji Purnama)















