Menulis Kreatif

Home / Pendidikan

Rabu, 7 Juni 2023 - 17:11 WIB

Apa Artinya Negeri Ini (Trilogi Puisi, Bagian 1 dari 3)

Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah, O'ushj Dialambaqa saat berorasi di depan kantor Kejaksaan Negeri Indramayu.

Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah, O'ushj Dialambaqa saat berorasi di depan kantor Kejaksaan Negeri Indramayu.

Oleh: O’ushj Dialambaqa*)

(Penulis adalah Penyair, Peneliti sekaligus  Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah (PKSPD) dan Accountant Freelance, tinggal di Singaraja. Kontak: 0819 3116 4563. Email: jurnalepkspd@gmail.com.)

Pengantar

Saya rasa kita pernah mendengar kutipan, “Aku berpikir maka aku ada” yang diucapkan oleh Rene Descrates pada abad 16. Maka, tidak ada salahnya jika saya mengucapkan “aku menulis maka karena itu aku ada” di abad ke 21 ini. Sehingga, kita sebagai mahluk sosial dapat menunjukan keeksistensiannya—manusia berakal.

Kemampuan berpikir dan menulis itu dapat dilakukan salah satunya dengan apa yang disebut sebagai puisi. Puisi merupakan karya sastra yang memaksimalkan keindahan kata atau diksi dengan irama tertentu. Oleh karena itu, dengan puisi, kita mampu membangkitkan imajinasi pembaca maupun pendengar untuk ikut menyelami keadaan dan rasa dari karya sastra puisi itu sendiri. Penulisan, penggunaan bahasa, bait, dan rima akan mempengaruhi pengaktifan imajinasi terhadap pembaca dan pendengar atas karya sastra puisi itu.

Apa Artinya Negeri ini, Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca, dan Habis Sudah Kata Kataku adalah puisi trilogi yang ditulis oleh O’ushj Dialambaqa dengan penuh kemirisan dan kepasrahan tentang keadaan negeri ini. Apa Artinya Negeri Ini ditulis dengan kemirisan soal pendidikan formal yang tidak mampu memberikan kepekaan seseorang terhadap persoalan-persoalan di negeri ini. Namun, tidak hanya itu, penulis juga menggambarkan keadaan rakyat yang tinggal diam atas situasi yang terjadi di negeri ini. Alhasil, semua elemen (kalangan) bertanggungjawab terhadap sumbangsih kebobrok negeri ini.

Sinisme dalam “Apa Artinya Negeri Ini” terlihat dan terbaca dari awal larik dari setiap baitnya. Bagaimana seseorang yang mengenyam pendidikan formal, akademisi, para penulis, dan rakyat tidak dapat memberikan arti dari sebuah negeri ini. Korupsi terjadi di mana-mana, kabar bohong (hoax) mewarnai media sosial dan surat kabar, gelap, dan pengap merupakan gaya bahasa Penulis untuk memberikan imajinasi kondisi negeri ini.

Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca menjadi kemirisan selanjutnya. Setiap hari terlihat, terbaca, dan terdengar korupsi terjadi di mana-mana, tidak ada lembaga yang suci yang tidak lolos dari perkorupsian. Hal ini diperparah lagi dengan praktik pelacuran intelektual yang lebih memilih untuk menghamba kekuasaan.

Sinisme pada puisi Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca lebih menggigit ketimbang puisi pertama (Apa Artinya Negeri Ini). Itu terlihat, terbaca, dan terdengar dari gaya bahasa yang penulis tulis. Misalnya, perkorupsian makin menggila dan gila-gilaan, tipu daya, kemunafikan, pengkhianatan, omong kosong, dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Tumbuhkan Minat Baca Dini, Disarpus Indramayu Gelar Storytelling pada Siswa TK Aisyiyah

Akan tetapi, kemenggigitan gaya bahasa itu too much (terlalu banyak). Sehingga, puisi tersebut terlalu terlihat, terbaca, dan terdengar monoton. Seperti, “Podcast topeng topeng” yang bisa diganti dengan “podcast topeng yang tak ada duanya”. Maka, akan terlihat puitis dan tidak terlalu kaku.

Puisi terakhir, Habis Sudah Kata Kataku, tidak menjadi kemirisan yang kental. Tetapi, sebuah kepasrahan penulis yang sudah muak dan kehabisan kata-kata karena melihat begitu banyaknya ketidakwarasan. Hal itu terkata dalam larik “aku kehilangan kata kata. bla bla bla”.

Tak hanya di situ, kepasrahan penulis juga terlihat, terbaca, dan terdengar dari larik “logika dan akal waras tak lagi bisa memaknai sunyi dalam senyap”. Dimana kekuatan manusia, baik logika maupun akal adalah kemampuan luar biasa yang tentu dapat memaknai sunyi dalam senyap, diam dalam senyap, dan sunyi tersembunyi.

Rima dari puisi trilogi tersebut kurang begitu berwarna yang disebabkan oleh penggunaan gaya bahasa: monoton, padahal bisa menggunakan alternatif gaya bahasa lain. Mengapa gaya bahasa dan rima penting? Sebab, pembaca dan pendengar akan dapat terasa menyelami (berimajinasi) keindahan sebuah puisi dengan gaya bahasa dan rima yang lebih berwarna.

Ada beberapa gaya bahasa yang sebenarnya dapat digunakan dengan bahasa yang lebih berwarna agar tidak begitu kaku. Misalnya, dalam puisi “Habis Sudah Kata Kataku” pada bait ke tiga yang tertulis, “Habis sudah kata kataku dalam senyap”. Dapat digunakan diksi “dilahap” untuk menggantikan kata “dalam”. Habis sudah kata kataku dilahap senyap.

Puisi trilogi dari O’ushj Dialambaqa akan disajikan terpisah (Bagian 1 sampai 3). Selamat membaca dan menyelami dunia dari si Penulis.

 

Singaraja, 7 Juni 2023

                                                                                                                                                                                                             Panji Purnama

Baca Juga:  Upacara HUT RI ke-77 Tanpa Wabup Indramayu Lucky Hakim, Kemana Rimbanya?

 

Apa Artinya Negeri Ini

Apa artinya negeri ini, jika orang-orang yang makan bangku sekolah puluhan tahun lamanya tapi tidak bisa membaca kepedihan yang menjuntai di langit merah saga.

Apa artinya negeri ini, jika para akademisi hanya sibuk dengan angka kredit untuk menaiki tangga kursinya. sedangkan di luar menara gading kehidupan bagai langit dengan bumi. angin menderu dan suara suara bersliweran telah menulikan pendengarannya. matahari yang terbakar telah menggerhanakan matanya. pandangannya menjadi kunang-kunang melihat yang nyata dan yang dinyatakan.

Apa artinya negeri ini, jika kita tak bisa lagi mendengar dan membaca kabar dari langit. pelacuran pelacuran akademisi dan intelektual terjadi di mana-mana. penulis penulis salon berserakkan di mana-mana dan pikiran pikiran sampah membusuk di mana-mana. udara menjadi pengap dan lembab. keringat bau mayat membusuk di mana-mana.

Apa artinya negeri ini, jika kursi kursi pada akhirnya diduduki para penindas, koruptor, bromocorah, pembual, pengibul, pembacot, brutus, sangkuni, dorna dan para pendusta, dan saban hari pula kekuasaan memproduksi berita berita hoax. kebohongan dan dusta dusta menjadi keseharian. kata kata tak lagi punya makna. tercerabut dari keluhurannya. seperti halnya kebenaran yang terkubur tanpa pusara dan batu nisan. jejak para penziarah ditelan riak gelombang hiruk pikuknya para penghamba kekuasaan, buzer buzer dan narasi narasi politisi yang membusuk dan memekakkan pendengaran.

Apa artinya negeri ini, jika angka angka jumpalitan di meja kantor. kecoa dan tikus tikus sembunyi di balik kalkulator. yang melek dan yang tertidur berbanding terbalik. cahaya makin meredup. di sana sini hanya lilin lilin yang menyala dalam kegelapan.

Apa artinya negeri ini, jika rakyatnya bobrok pula, menjadi pengigau dan pemimpi; perubahan tidak datang sekoyong-konyong dari langit sana, dan jika beragama dalam keberagamaan pada akhirnya hanya menjadi atheis sejati.

Singaraja, 12/1/2023.

 

(TJ / TJIMANOEK)

Share:

Baca Juga

sd indramayu, sdn dukuh, sdn dukuh indramayu, sekolah dasar, pendidikan indramayu,

Daerah

SDN Dukuh Indramayu Nyaris Ambruk, Siswa Selalu Waswas Saat Belajar
oushj dialambaqa, direktur pkspd, istana

Pendidikan

Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca (Bagian 2 dari 3)
yayasan yatim indramayu, yayasan arrahimah abu hurairah indramayu, santri, pawai santri indramayu, santri indramayu, sambut ramadhan, ramadhan 1444 h, 1444 hijriah,

Daerah

Sambut Ramadhan 1444 H, Santri Arrahimah Abu Hurairah Pawai Berbagi Bunga Cinta Ramadhan
study campus, study campus bali, politeknik negeri bali, bali, kampus bali, sayu, sman 1 indramayu, study tour,

Daerah

SMAN 1 Indramayu Gelar Study Campus 2024 ke Bali
guru SMK Mitra Maritim, Prasetyo Eryani, SMK Mitra Maritim Indramayu,

Opini

Kecerdasan Finansial pada Generasi Z Melalui Literasi Keuangan
oushj dialambaqa

Pendidikan

Habis Sudah Kata Kataku (Bagian 3 dari 3)
mangrove indramayu, eduwisata mangrove indramayu, eduwisata mangrove persada,

Daerah

Duta Baca Indramayu Lakukan Aksi Tanam Mangrove Bersama
unwir, universitas wiralodra, kampus unwir, perguruan tinggi indramayu, mahasiswa unwir, unwir didemo, uang kip kuliah, rektor unwir,

Daerah

Gondol Biaya KIP Kuliah, Mahasiswa Minta Rektor Unwir Mundur