Menulis Kreatif

Home / Daerah

Senin, 28 Februari 2022 - 19:34 WIB

Ada Pertamina Balongan, Mengapa Kecamatan Balongan Tertinggi Angka Stunting?

Bupati Indramayu Nina Agustina saat vaksinasi serentak di Pendopo Indramayu, Kamis, (17/2/2022). Foto: ninaagustina1708

Bupati Indramayu Nina Agustina saat vaksinasi serentak di Pendopo Indramayu, Kamis, (17/2/2022). Foto: ninaagustina1708

TJIMNAOEK.COM, Indramayu – Pemerintah Kabupaten Indramayu menyebutkan bahwa Kecamatan Balongan mempunyai angka stunting tertinggi dari kecamatan-kecamatan lainnya di Indramayu, Jawa Barat. Hal itu terungkap saat pelaksanaan program penurunan stunting di Desa Sukareja, Kecamatan Balongan, Indramayu pada Sabtu, (26/2/2022).

Dilansir dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Indramayu, gerakkan melawan stunting itu ditandai dengan menanam tanaman kelor oleh Bupati Indramayu Nina Agustina di halaman kantor Desa Sukareja.

Gerakan menanam tanaman kelor tersebut menjadi upaya pemda agar masyarakat memanfaatkan lahan kosong yang bisa ditanami tumbuhan untuk membantu kesehatan tubuh.

“Tentu tanaman stunting ini bisa bermanfaat untuk masyarakat apalagi dalam upaya penanganan stunting di Indramayu. Di samping itu juga tanaman kelor ini bisa membuka usaha baru bagi masyarakat, utamanya bagi kaum perempuan untuk menopang penghasilan keluarga,” tutur Nina dikutip dari Diskominfo.

Sementara di Kecamatan Balongan sendiri terdapat perusahaan-perusahaan besar nasional, salah satunya ada BUMN (Badan Usaha Milik Negara) besar, yakni PT. Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU VI Balongan. Selain itu, ada Polytama Propindo, perusahaan besar penghasil resin polipropilena atau termo-plastik untuk pengemasan, tekstil, alat tulis, dan berbagai tipe wadah.

Lalu, mengapa bisa terjadi kesenjangan ini? Harusnya Kecamatan Balongan bisa lebih sejahtera ketimbang kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Indramayu.

Menurut Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah, tidak cukup stunting ditekan hanya dengan gerakan memakan ikan dan menanam tanaman kelor.

“PKSPD sudah berkali-kali mengkritik problema stunting yang didikotomiskan persoalannya seperti ketika seremonial gebrakan gerakan gemar makan ikan lantas dikatakan dengan makan ikan mengatasi stunting. Ketersediaan beras untuk mengatasi stunting dan seterusnya,” kata Direktur PKSPD, O’ushj Dialambaqa di Indramayu, Senin, (28/2/2022).

Menanggapi pernyataan Bupati Nina, ia mengatakan, bupati hendaknya jangan asal ucap mengenai kelor tanaman stunting dan bisa menjadi usaha baru bagi perempuan.

“Sekarang Bupati ngumbar pernyataan asal nyeplos, bilang kelor tanaman stunting dan utamanya bagi kaum perempuan untuk menopang penghasilan keluarga,” ucapnya.

“Lucu dan memalukan, selevel Bupati bicara stunting dan gerakan mengatasi stunting menjadi dikotomis, dan akhirnya hanya sekedar tiktok saja dan ngawur,” imbuhnya.

Kemudian, Oushj meminta agar bupati mempelajari mengenai stunting sebelum memberikan penjelasan kepada publik atau masyarakat. “Seharusnya Bupati sebelum ngomong atau membuat statemen publik, mbok ya baca dulu referensi tentang stunting, kesehatan, gizi, dan problematikanya. Bukan asal nyeplos, sehingga kacau balau. Bukan dengan ujug-ujug hanya dengan ikan atau kelor stunting bisa ngacir kebirit-birit,” jelasnya.

“Problem dan akar utamanya masalah stunting, Bupati tidak paham. Yang terjadi dan meng-ada adalah tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentag gizi dan atau nutrisi yang kapan harus bisa terpenuhi sehingga bayinya kelak tidak mengalami stunting. Nah, Bupati tidak punya pengetahuan yang cukup untuk problema stunting. Jika kita mengikuti setiap statemenya soal stunting,” kata Oushj.

Ooh, begitu sapaan akrab Oushj, mengatakan bahwa penyebab utama stunting adalah ketidakingin tahuan orang tua tentang gizi. “Bagaimana bayi akan akan lahir kelak tidak mengalami stunting, jika ibu dan bapaknya tidak mau tahu tentang pemenuhan nutrisi yang memenuhi gizi. Semua sumber nutrisi yang bergizi di sekitar kita ini melimpah ruah dan masih bisa diperoleh dengan murah, tetapi pengetahuan gizinya blong,” tuturnya.

Baca Juga:  Soal Lahan Parkir Samping Polres Indramayu, Kapolres: Bukan Milik Polres

Menurut dia, makan ikan dan mengkonsumsi kelor tidak dapat mengatasi permasalahan stunting karena variablenya lebih dari satu. “Dengan makan ikan atau sekedar kelor tidak akan bisa mengatasi masalah stunting, karena itu varibelnya tidak tunggal. Begitu juga bukan soal ada Pertamina dan Polytama, kok angka stuntingnya msh tinggi,” jelasnya.

“Seribu Pertamina dan Polytama juga tidak ada artinya untuk stunting, jika pengetahuan gizinya blong bagi orang tua anak balita,” kata Oushj.

Mengatasai stunting, kata Oushj, harus dipecahkan dengan metode dan data yang benar. “Bupati jika bukan hanya untuk sekedar bertiktokan saja, gerakan untuk mengatasi stunting harus membuat skema atau bagan problem solving stunting dengan metodologi akademik dan data yang benar,” beber Oushj.

Lanjutnya, “Yang terjadi sekarang, sudah asal nyeplos, dan data stuntingnya adalah abal-abal. Lantas bagaimana mungkin bisa mengatasi problem stunting. Maka tidak heran, tempo hari, dalam waktu relatif singkat hanya satu bulanan saja kemudian dilansir bahkan dapat penghargaan, bahwa posyandu tersebut bisa menurunkan angka stunting yang dramatis. Ya itu ngawur dan manipulatif. Mana ada stunting bisa diatasi dengan waktu satu bulan, terkecuali anak mengalami cacar,” tuturnya.

“Ngomong stunting, angka sesungguhnya berapa? Wong itu abal-abal. Kita bisa cek disetiap desa, apa webset desa bicara? Tidak, jadi omong kosong itu Lebu Digital, Kecamatan Digital, dan Pendopo Digital. Bupati itu takut dengan transparansi dan akuntabilitas publik. Makanya soal transparansi itu masih sebagai makhluk astral,” imbuhnya.

Oushj mengatakan, tanaman kelor saat ini masih belum menjadi kebutuhan masyarakat. Ia juga mengatakan, gerakan menanam kelor harus disertai dengan edukasi mengenai gizi dan manfaat kelor itu sendiri.

“Pohon kelor dan daun kelor belum menjadi kebutuhan masyarakat akan manfaatnya, maka gerakan menaman kelor bukan sekedar menaman, tetapi bagaimana memberikan pengetahuan tentang gizi dan nutrisi yang baik bagi kesehatan dan pertumbuhan anak-anak,” jelas Oushj.

“Skema gerakanya tentu harus dimulai dari akar masalahnya, dan berarti harus dimulai dari posyandu-posyandu yang ada disetiap RT/RW, Tim PKK mulai dari tingkat Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Bukan gerakan seremonial tiktokan,” lanjutnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa tanaman kelor masih belum menjadi kebutuhan nutrisi sehari-hari masyarakat. “Jika kita periksa fakta dan realitasnya, yang terhimpun dalam posyandu-posyandu dan PKK saja dari tingkat Desa dan Kabupaten, apa benar kelor sudah menjadi kebutuhan nutrisi sehari-hari. Itu omong kosong dan bohong besar jika mereka mengatakan telah mengkonsumsi kelor untuk dijadikan sayur atau rumbah atau urap. Lantas bagaimana mungkin mau dan atau bisa menjelaskan pada ibu-ibu hamil atau ibu-ibu yang punya anak balita. Itu soalnya,” ucapnya.

“Lebih ngawur dan kacau balau lagi, Bupati bilang sebagai usaha baru bagi masyarakat terutama untuk menopang penghasilan keluarga bagi kaum perempuan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Penjelasan Kadisdik Mengenai Dana BOS, PKSPD: Bupati Nina Harus Turunkan Pangkat-Jabatan Caridin

Lanjut, “Bupati rupanya tidak pernah menjejakan kakinya ke pasar-pasar atau ke pasar desa, jadi buta fakta, bahwa kelor tidak laku dijual di pasar karena belum menjadi kebutuhan layaknya sayur mayur. Daun kelor adanya di tukang jamu, itupun tidak semua penjual jamu menjajakan daun kelor,” jelasnya.

Bupati Nina, kata Oushj, sangat mungkin untuk membantu memasarkan tanaman kelor mengingat segala hal baginya mudah didapat.

“Jika bukan untuk tiktokan saja, Bupati seharusnya membuat skema yang bisa membantu memasarkan daun kelor. Apakah lewat BWI atau lainnya, karena Bupati kita itu serba bisa seperti serba bisa mendapatkan penghargaan prestasi apapun dan dari manapun penghargaan tersebut dikeluarkan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, karena harus kita akui Bupati Nina sudah meraih segudang penghargaan, tinggal APBD menganggarkan untuk bikin musium penghargaan demi jejak sejarah kebupatian Bupati Nina,” katanya.

Oushj mengakui bahwa tanaman kelor memiliki banyak manfaat bagi manusia, termasuk pada metabolisme tubuh. “Memang benar kelor mempunyai banyak kamdungan yang bermafaat bagi tubuh manusia, termasuk untuk kebutuhan nutrisi dan metabolisma tubuh. Tetapi itu semua baru bermanfaat jika kita punya pengetahuan gizi yang cukup, terutama bagi ibu-ibu hamil dan ibu-ibu yang punya anak balita,” jelasnya.

“Jika kita merujuk jurnal Food and Chemical Taxologi ed. Juni 2011, daun kelor (ekstrak kelor) bermanfaat untuk mencegah pertumbuhan dan reproduksi sel-sel kanker,” imbuhnya.

Lanjutnya, “Dari berbagai referensi, daun kelor mengandung nutrisi seperti Kalsium dan Mineral. Daun kelor juga mengandung asam amino yang bisa membantu produksi kalogen dan protein keratin,” kata Oushj.

“Daun kelor mengandung tembaga, besi, zinc, magnesium, silika, mangan, dan vitamin A yang tinggi. Pada daun kelor juga terdapat lebih dari 30 zat antioksidan. Daun kelor dengan kandungannya itu, mengangkat sel-sel kulit yang mati, untuk ketahanan ginjal, mata, memperlambat efek penuaan, mencegah penyakit jantung dan kanker,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, tanaman kelor sangat baik dikonsumsi oleh Ibu hamil hingga anak balita. “Daun kelor dengan kandungannya yang cukup banyak, ibu-ibu hamil dan anak2 balita,  seharusnya mengkonsumsi daun kelor dengan berbagai model sajian, tidak melulu dibuat sayur atau urap, karena bisa membantu memproduksi air susu ibu yang sangat utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk bisa mencegah kelambatan berpikir (perkembangan otak), karena kandungan nutrisinya, yang merupakan kebutuhan untuk salah satu problem stunting. Tetapi, lagi-lagi, itu problem pengetahuan akan gizi penting bagi pertumbukan dan perkembangan anak,” ucapnya.

“Sekalipun Bupati Nina asal nyeplos, bisa dipastikan bakal menyabet prestasi penghargaan nasional dan bahkan mungkin internasional atas prestasinya menurunkan dan atau melenyapkan angka stunting secara fantastis dan dramatis. Kita lihat saja nanti, karena itulah kepiawaian Bupati Nina dalam jejak sejarahnya yang baru setahun saja sudah segudang prestasi diperolehnya. Tiada ada tandingannya. Pemenang Nobel pun kalah jauh,” pungkas Direktur PKSPD, O’ushj dialambaqa kepada tjimanoek.com, Senin, (28/2/2022).

(TJ-99 / TJIMANOEK)

Share:

Baca Juga

hmi cabang indramayu, hmi, tolak kenaikan tarif air pdam indramayu, demo pdam indramayu, tarif pdam,

Daerah

Berbagai Kalangan Menolak Kenaikan Tarif Air PDAM Indramayu
seleksi cpns kabupaten indramayu

Daerah

Pelaksanaan SKD CPNS dan PPPK 2021 Indramayu Akan Dilakukan Di Gedung PGRI
nina, nina agustina, bupati indramayu, lucky hakim, wakil bupati indramayu,

Daerah

Aroma Tak Sedap Hubungan Nina-Lucky, Ada Apa?
syakur yasin, buya syakur, bupati indramayu, nina agustina,

Daerah

Syakur Yasin Bilang Bupati Nina Jangan Direcoki, PKSPD Bilang Apa?
siti nurbaya, menteri lingkungan hidup dan kehutanan, menteri lhk,

Daerah

Kritik BEM Polindra Atas Menteri LHK ke Indramayu Penting Menjadi Catatan
wartawan indramayu, urip triandri, topi jerami, demo pdam indramayu, tugu perjuangan indramayu, dosen unwir, dosen urip triandri, urip unwir, urip triandri unwir,

Daerah

PKSPD Kirim Surat Terbuka, Minta Dosen Unwir sekaligus Wartawan Dipecat
kejaksaan negeri indramayu, kejari indramayu, anggaran makan minum wakil bupati indramayu, apbd 2022,

Daerah

Kejari Indramayu Menduga Anggaran Makan dan Minum Belum Terserap, Wabup Lucky: Pasti Bodong
ptun bandung, pengadilan bandung, ptun bdg,

Daerah

Gugatan Terhadap Bupati Nina, Penggugat: Menuju Puncak Sengketa