TJIMANOEK.COM, Depok – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) mengkritik kelangkaan dan meroketnya harga minyak goreng. Hal tersebut disampaikan melalui akun media sosialnya.
“Krisis minyak goreng yang melanda Indonesia beberapa waktu ke belakang ternyata menyisakan cerita duka yang menyayat hati. Bagaimana tidak, setidaknya ada dua orang yang meninggal dunia setelah mengantre berjam-jam di pasar ritel hanya untuk mendapatkan minyak goreng,” tulis BEM UI melalui media sosial twitter, Minggu (20/3/2022).
Pemerintah, kata BEM UI, seolah tidak melihat kondisi masyarakat yang berebut minyak goreng di berbagai daerah. “Namun amat disayangkan, pemerintah seakan-akan menutup mata terhadap krisis minyak goreng yang telah menelan korban jiwa ini dengan inkonsistensi dan ketidakseriusan dalam membuat kebijakan,” katanya.
Menurut BEM UI, pemerintah salah menerapkan peraturan mengenai pengaturan harga eceran tertinggi yang justru membuat kelangkaan minyak goreng di pasar maupun pusat perbelanjaan lain.
“Diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. 6 Tahun 2022 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Goreng Sawit justru membuat minyak goreng mengalami kelangkaan di pasaran,” tulisnya lagi.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi meminta maaf kepada masyarakat karena tidak dapat mengendalikan atau mengontrol harga minyak goreng.
“Dengan permohonan maaf Kemedag tidak dapat mengontrol karena ini sifat manusia yang rakus dan jahat,” kata Lutfi, dikutip dari Kompas.com di Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis (17/3/2022).
Selain itu, Lutfi mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan wewenang untuk mengusut tuntas masalah mafia dan para spekulan minyak goreng.
“Sementara ini kita punya datanya dan sedang diperiksa oleh kepolisian Satgas Pangan tetapi keadaannya sudah sangat kritis oleh ketegangan,” ucapnya.
(TJ-99 / TJIMANOEK)















