Sebenernya saya tahu tanaman porang pertama kali dari tulisan Dahlan Iskan: “Porang Komersial“. Karena tidak terlalu paham tentang porang apalagi soal pertanian maka saya anggap angin lalu saja. Tetapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya.
Saya mulai tertarik mencari tahu kembali tentang porang setelah adanya perhatian Presiden Jokowi kepada petani porang (lihat video Sekretariat Presiden dengan judul: Dialog Presiden Jokowi dengan Petani, Madiun, 19 Agustus 2021).

Presiden Joko Widodo terlihat sedang melihat hasil porang petani di Madiun, Kamis, 19 Agustus 2021. | Sumber: instagram.com/jokowi
“Wah porang ini bukan main-main. Ada masa depannya,” kata saya dalam hati.
Akhirnya hal itu membuat saya pada proses pencarian: apa itu porang? Tanaman yang seperti apa? Kok bisa digadang-gadang masa depannya baik. Untuk meyakinkan itu (masa depan porang) sila baca saja Disway, catatan milik mantan Menteri BUMN masa Presiden SBY, Dahlan Iskan (selanjutnya disebut dengan DI).
Di dalam catatan onlinenya itu, setidaknya pak DI sudah menuliskan lima tulisan
mengenai porang—bahkan ia pernah menanam sendiri tanaman porang itu di lahan milik
perhutani di Blora, pada 27 April 2013.
Melihat pesatnya perkembangan tanaman itu, dalam tulisannya berjudul “Porang Komersial”, DI sempat menyesali bahwa selama empat tahun terakhir ia sibuk dengan hal lain yang membawanya lupa akan porang. Penyesalan DI tersebut merupakan suatu pertanda bahwa perkembangan tanaman tersebut sudah akan menuju cahaya terang.
Baik dari segi kesejahteraan petaninya maupun komoditas porangnya itu sendiri. Pasti orang-orang yang paham akan pertanian menilai ini sebagai suatu peluang emas. Yang tentu tidak akan disia-siakan.
“Kalau zaman dulu lulus sekolah cari kerja di kota. Kalau sekarang tidak pak, lulus sekolah jadi petani porang. Tiga tahun berjuang bertani porang, setelah tiga tahun bawa pulang mobil,” kata Yoyok menceritakan kisahnya yang inspiratif itu di hadapan Presiden Jokowi, 19 Agustus 2021.
Yoyok adalah satu diantara sekian banyak petani porang yang berhasil meraup untung. Kini, ia dan rekan-rekan satu profesi berharap bantuan pemerintah. Agar pertaniannya berjalan baik dan hasilnya bisa lebih besar lagi. Makanya pada saat itu ia langsung menyampaikannya kepada Presiden Jokowi.
Melihat adanya perhatian pemerintah, masa depan porang akan sangat baik. Dan menjadikannya komoditas baru berskala besar. Yang nantinya aktivitas ekspor akan masif. Dari Indonesia ke Korea, Amerika Serikat, dan banyak lagi.
Itu bukan hal yang tidak mungkin karena porang memiliki banyak manfaat, yaitu: dapat diolah menjadi makanan dan kosmetik. Tanaman yang termasuk kedalam jenis ubi-ubian itu rendah kalori dan bebas gula.
Menurut data yang saya himpun dari berbagai sumber, porang memiliki kandungan karbohidrat, lemak protein, mineral, vitamin, kristal kalsium oksalat, alkaloid, dan serat pangan. Tentunya kandungan-kandungan tersebut sangat penting bagi tubuh. Biasanya porang akan diolah menjadi beras, shirataki, dan campuran produk kue.
Masa panen tanaman porang termasuk yang lama. Membutuhkan waktu sekitar tujuh sampai delapan bulan. Ditanam saat musim penghujan tiba. Sedangkan untuk jarak lubang antar porang berjarak 60 sentimeter. Agar dapat bertumbuh maksimal.
Salah satu kelemahan bertani porang ini ada pada modal awal yang cukup besar, yakni sekitar 70-80 juta per hektarnya. Oleh karenanya pemerintah mencoba memberikan solusi melalui perkreditan rakyat (KUR, Kredit Usaha Rakyat). Sehingga para petani yang ingin menanam porang tidak begitu kesulitan mencari dana atau modal.
Kunjungan Presiden Jokowi ke petani porang di Madiun dapat dibaca sebagai pertanda bahwa pemerintah berhasil memperhatikan potensi porang untuk menjadi komoditas baru skala besar yang dapat men-supply (memasok) kebutuhan pangan maupun kosmetik.
Dari data Kementerian Pertanian, nilai ekspor porang 2020 mencapai Rp 923 miliar. Bukan hanya itu saja, harapannya pengelolaan porang dapat dilakukan sepenuhnya di dalam negeri sehingga Indonesia mempunyai kendali atas pasar global.
(Panji Purnama)














