Pada era globalisasi dunia terjadi berbagai perubahan dalam segala bidang, termasuk pekononomian negara. Sehingga masyarakat Indonesia dituntut untuk memenuhi segala kebutuhannya. Ditambah lagi dengan adanya organisasi perdagangan internasional yang di dalamnya terdapat Negara Indonesia, baik di kawasan Asia Tenggara seperti AFTA (Assean Free Trade Area) dan Organisasi dunia, misalnya WTO (World Trade Organisation).
Perdagangan internasional dapat memberi dampak negatif berupa konsumsi yang berlebihan pada masyarakat khususnya generasi muda karena banyaknya jumlah barang–barang import (dari luar masuk ke dalam) yang masuk ke dalam negeri. Pernyataan ini juga didukung oleh pemaparan dari Suprapti dalam “Nokadianti” (2013: 55) bahwa generasi muda merupakan segmen pasar yang sangat potensial karena sifatnya yang multidimensi, yaitu: sebagai pasar primer, karena mereka memiliki kebutuhan yang beragam.
Permasalahan di atas terjadi juga pada siswa kelas XI NKPI (Nautika Kapal Penangkap Ikan) dan APHPI (Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan) SMK Mitra Maritim yang merupakan generasi Z yang lahir pada tahun 2004-2005. SMK Mitra Maritim adalah salah satu SMK Swasta di Indramayu yang berada pada Desa Karangsong dan didirikan tahun 2017 oleh KPL Mina Sumitra dengan tujuan untuk meningkatkan minat pendidikan pada anak nelayan sekitar. Sementara generasi Z menurut PBI UII (2018) adalah anak yang lahir dari tahun 1995 – 2010 dimana kehidupanya tidak terlepas dari teknologi.
Adapun hasil penelitian menemukan bahwa pada kelas XI NKPI dari 13 Peserta didik, sebanyak 9 siswa seluruh uang sakunya dibelanjakan dan hanya 4 murid yang uang sekolahnya ditabung untuk keperluan sekolah. Sedangkan kelas XI APHPI dari 19 peserta didik, hanya ada 6 siswa yang menabung, dan 13 murid membelanjakan seluruh uang sakunya. Alasan dari peserta didik yang tidak menabung disebabkan karena kurang memahami manfaat dari pengaturan uang saku sekolah. Maka dari itu perlu peran dari guru khusunya mata pelajaran “Produk Kreatif” dan “Kewirausahaan untuk” meningkatkan literasi keuangan dengan tujuan agar peserta didik pada kelas XI SMK Mitra Maritim memiliki kecerdasan finansial untuk mengelola keuangan.
Peningkatan Kecerdasan Finansial Pada Generasi Z Melalui Literasi Keuangan
Pemahaman literasi keuangan pada siswa dapat menigkatan kecerdasan finansial dalam mengatur uang sakunya, seperti: mengalokasikannya untuk membeli makanan, menabung untuk membeli keperluan sekolah, misalnya membeli sepatu, seragam, tas dan buku serta membayar kas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan kelas seperti membeli peralatan kebersihan, membuat agenda kelas, dekorasi kelas.
Literasi Keuangan
Menurut Chen dan Volpe (1998) Literasi keuangan adalah pengetahuan untuk mengelola keuangan agar bisa hidup lebih sejahtera di masa yang akan datang. Sehingga dapat diartikan bahwa literasi keuangan adalah pemahaman teori tentang manfaat penggunaan keuangan pribadi.
Kecerdasan Finansial
Romadiastri Yulia (2011) kecerdasan finansial merupakan praktek sistem atau cara untuk mengelola keuangan. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa kecerdasan finansial adalah cara seseorang dalam mengelola keuangan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kecerdasan finansial pada siswa adalah kemampuan dalam mengatur uang sakunya seperti konsumsi, menabung dan membayar uang kas kelas.
Kerangka Berfikir
Dari kajian teori di atas dapat diartikan bahwa kecerdasan finansial bisa ditingkatkan melalui giat literasi keuangan. Dalam hal ini didukung oleh pernyantaan dari Hailwood. Menurut Hailwood (2007) financial literacy akan mempengaruhi bagaimana orang menabung, meminjam, berinvestasi dan mengelola keuangan. Sehingga penulis merumuskan kerangka pemikirannya sebagai berikut:

Rendahnya literasi keuangan pada peserta didik dapat menjadikan siswasiswi SMK Mitra Maritim lebih konsumtif, karena uang sakunya dipergunakan seluruhnya untuk membeli makanan. Dalam hal ini, perlu peran guru dalam meningkatkan kecerdasan finansial dengan tujuan memahami teori keuangan sehingga murid mampu untuk mengelola uang sakunya dengan cerdas. Kecerdasan finasial dapat membuat peserta didik mampu menggunakan uangnya dengan bijak seperti membayar uang kas untuk membelanjakan keperluan peralatan kelas, menabung untuk keperluan sekolah dan membeli makanan. Hal ini terbukti dari data temuan dilapangan. Adapun datanya sebagai berikut:

Tabel di atas menjelaskan bahwa sebelum ada pembelajaran tentang literasi keuangan, ditemukan bahwa pada kelas XI NKPI dari 13 Peserta didik (100%), sebanyak 9 siswa (69%) seluruh uang sakunya dibelanjakan dan hanya 4 murid (31%) yang uang sekolahnya ditabung untuk keperluan sekolah. Sedangkan kelas XI APHPi dari 19 peserta didik (100%), hanya ada 6 siswa (32%) yang menabung, dan 13 murid (68%) membelanjakan seluruh uang sakunya.
Setelah memahami literasi keuangan tentang pentingnya menabung dan menyisihkan uang saku, peserta didik mampu mengatur keuanganya. Terlihat dari kelas XI NKPI yang mengalami peningkatan pada siswa yang menabung sebesar (85%) atau 11 siswa dan 2 siswa (15%) tidak menabung serta 100% atau 13 murid membayar uang kas untuk keperluan kelas. Begitupun dengan kelas XI APHPI yang mengalami peningkatan pada siswa yang menabung sebesar 16 siswa (85%) dan yang tidak menabung 3 murid (16%) serta 100% atau 19 peserta didik mengalokasikan uang sakunya untuk membayar kas kelas. Berdasarkan penelitian dan teori di atas menghasilkan temuan bahwa kecerdasan finansial pada generasi Z dapat ditingkatkan melalui literasi keuangan. Hasil penelitan tersebut didukung oleh temuan dari Lusardi dan Tufano (2008) bahwa rendahnya literasi keuangan akan mengalami masalah pengaturan keuangan terutama utang.
Simpulan
Masalah pada kelas XI di SMK Mitra Maritim adalah ketidaktahuan tentang manfaat dari pengaturan keuangan. Dalam hal ini tugas dari pendidik, adalah memberikan pengetahuan tentang literasi keuangan kepada siswa-siswi nya sedini mungkin agar generasi Z rasional dalam menggunakan uangnya di kemudian hari. Kecerdasan finansial pada generasi muda dapat membuat masa depan yang lebih baik karena uangannya dialokasikan bukan hanya dibelanjakan (konsumsi), tetapi untuk menabung dan investasi. Keuangan yang produktif pada generasi muda dapat memperkuat perekonomian negara. (Prasetyo Eryani)
Penulis adalah guru di SMK Mitra Maritim, Indramayu, Jawa Barat. Tulisannya ini adalah karyanya yang dilombakan di Duta GenRe (Generasi Berencana Kab. Indramayu) dan memperoleh peringkat ke II.












