Menulis Kreatif

Home / Opini

Jumat, 15 Oktober 2021 - 13:19 WIB

Vaksinasi Moderna Kedua

Catatan Panji P melakukan vaksinasi kedua moderna di Puskesmas Margadadi pada, 27 September 2021.

Catatan Panji P melakukan vaksinasi kedua moderna di Puskesmas Margadadi pada, 27 September 2021.

Saya melakukan vaksinasi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) kedua di Puskesmas (PKM) yang sama, PKM Margadadi, 27 September 2021. Tidak jadi pada tanggal, 25 September (baca juga: Vaksinasi Moderna Kesatu, MCB Edisi 20-26 September).

Hari di mana seharusnya saya dijadwalkan vaksinasi (25/9), ternyata terlebih dahulu untuk tenaga kesehatan (nakes): booster. Maka, terjadilah yang diundur itu.

Jika sebelumnya tensi saya tinggi namun bisa tetap langsung disuntik, vaksinasi kedua memperoleh angka yang baik. Angka tersebut yakni 127/80.

Sembari melakukan cek tensi, petugas memberodong saya dengan banyak pertanyaan. Apakah setelah vaksin pertama ada gejala? Saya jawab: ada. Berapa lama merasakan meriangnya? Kurang dari 24 jam. Selain itu ada keluhan lain? Tidak ada, hanya itu.

“Baik, hasil tensi darahnya sangat baik. Bisa langsung dilakukan penyuntikan,” kata petugas itu sembari melepaskan alat tensi dari lengan saya.

Setelah semua itu baik, saya diperintah untuk memilih ruangan mana saja yang menjadi ruang penyuntikan vaksin. Petugas yang di dalam ruangan sudah menanti saya.

“Silahkan duduk,” katanya sembari mempersiapkan jarum suntik.

Saya tengok lengan kiri, benar saja sudah ada bekas suntikan. Setelah itu saya pun menunggu beberapa puluh menit dengan tujuan untuk memastikan saya dalam kondisi baik-baik saja. Akhirnya, nama saya dipanggil—diberi obat dan petunjuk.

Baca Juga:  Rocky Gerung Dilarang Berbicara Seumur Hidup (Studi Kasus Gugatan Perdata ADT, Perkomhan dan DPP.TMP-PDIP) Bagian 4 dari 5 Tulisan
Bagaimana cara kerja vaksin?

Mungkin sebagai pengantar yang perlu diingat oleh kita, vaksin tidak membuat kita terhindar dari korona (covid-19). Tetapi, dengan vaksin kita akan mengalami keterbiasaan—imun yang ada di dalam tubuh dapat mengenali virus itu. Sehingga imun tubuh bisa mengcounter (menangkal) virus tersebut agar tidak berdampak terlalu parah pada tubuh kita.

Vaksin memperkuat sistem imun dengan membentuk suatu memori untuk melawan virus yang menyebabkan korona. Jika seseorang teridentifikasi korona, maka sistem imun akan mengenali dan merespond lebih cepat dengan menetralkan virus yang masuk ke dalam tubuh.

Setidaknya ada lima vaksin yang sudah masuk ke Indonesia, yaitu: Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, Moderna, dan Pfizer. Semua vaksin tersebut harus lolos uji BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Baru kemudian bisa didistribusikan kepada masyarakat.

Kembali lagi di situasi saat vaksinasi. Situasi vaksinasi ke-2 terlihat lengang. Tidak seperti pertama kali. Begitu ramai. Kelengangan itu saya prediksi akibat kebijakan: vaksin kedua tidak mesti di tempat yang sama.

Banyak melakukan vaksinasi kedua di tempat yang berbeda. Toh, stok vaksinnya masih banyak. Jika dibandingkan dengan demand nya (permintaan). Ketersediaan vaksin masih sangat cukup.

Baca Juga:  SMA Juara Wirautama Indramayu Ikuti Vaksinasi

Pada akhirnya, saya kembali dihubungi oleh 1199. “Sertifikat vaksinasi ke-2 PANJI PURNAMA (NIK: 32xxx03) tersedia di https://pdl.id/c/19zebaj1 atau akses lebih mudah lewat aplikasi PeduliLindungi di PlayStore dan AppStore,” bunyi pesan 1199 yang masuk dua hari setelah vaksinasi atau pada hari, Rabu, 29 September 2021, sore.

Keberhasilan

Kabar baik datang dari kita. Kita (Indonesia) dinilai berhasil dalam penangan pandemi covid-19 ini. Hal ini bukan semata-mata karena pemerintah saja. Masyarakat kita berhasil patuh pada kebijakan pemerintah. Meskipun dramanya cukup panjang.

Keberhasilan itu pun terlihat ketika Presiden Jokowi hadir dalam forum WHO (World Health Organization/ Organisasi Kesehatan Dunia). Tidak tanggung-tanggung, di forum tersebut Presiden Jokowi diminta berbagi kunci kesuksesannya oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Kesuksesan tersebut bukan segalanya. Sebab, perjuangan ini belum tuntas. Boleh untuk sementara merasa menang. Tetapi, jangan lantas hal itu membuat kita angkuh. Kita harus benar-benar memastikan bahwa kita menang melawan pandemi ini, yakni dengan benar-benar menuntaskannya—tidak lagi perlu: bermasker, jaga jarak, dan dibatasi mobilitasnya. (Panji Purnama)

Share:

Baca Juga

Oushj dialambaqa, dirut pdam, penyair singaraja,

Opini

Rempang Menulis Air Mata Luka Nestapa dalam Sejarah Kelam (Studi Kasus Proyek-PSN-Rempang Eco City-Xyni-China) Bagian 2 dari 4 Tulisan
ady setiawan. ady setiawan semarang, bakul banyu, ady pdam, pakde air, nadi, nina adi, pilkada semarang, pilkada indramayu, politik, kpm, nina, nina agustina,

Opini

Dirut PDAM TDA Ady Setiawan, Avonturir Ataukah Profesional?
oushj dialambaqa

Opini

APDESI dan Tiga Periode, Antara Kepala dan Dengkul Terlampau Jauh Terbentang
oushj dialambaqa, direktur pkspd,

Opini

Supersemar Masihkah Harus Dipertanyakan? (Surat Perintah 11 Maret 1966)
panji purnama, catatan panji purnama, panji, catatan panji p,

Opini

Kenangan Gambir
gedung tncc polri, mabes polri, divpropam polri, biro paminal polri, gedung presisi polri, mabes polri jakarta,

Hukum

Lelucon Polri
panji purnama, catatan panji purnama, panji, catatan panji p,

Hukum

Permendikbudristek PPKS, Melindungi atau Melegalkan?
Oushj dialambaqa, dirut pdam, penyair singaraja,

Daerah

Tujuh Oktober Hari Mendongeng Wiralodra Bagi Indramayu