Sudah sekian lama saya mengabaikan vaksinasi covid-19. Akhirnya, Sabtu, (28/8) saya melakukan vaksinasi covid-19 kesatu di Puskesmas Margadadi, Indramayu, Jawa Barat.
Alasan mengabaikannya bukan karena saya benci pemerintah, tapi karena saya termasuk orang yang berpikir: saya sehat untuk apa vaksin segera. Toh, saya dapat menjaga protokol kesehatan (prokes), kemana pun dan kapan pun.
Bagi sebagian orang mungkin tidak menerima alasan itu karena memang vaksinasi adalah upaya mencegah virus agar tidak memperparah kondisi tubuh. Nah, makanya seringkali orang mengatakan vaksin itu bukan untuk menyembuhkan (obat), tetapi untuk pencegahan—tubuh tidak drop (penurunan) ketika terpapar covid-19.
Senang sekali rasanya dapat melakukan vaksinasi. Ini dosis yang pertama—moderna. Asal vaksin itu dari Amerika Serikat. Diperuntukan bagi masyarakat umum yang belum vaksin. Hal ini mungkin agak terlambat bagi saya yang baru melakukan vaksinasi.
“Ini kali pertama saya vaksin. Jadi saya sangat nervous (grogi),”kata saya kepada Ibu tenaga kesehatan (nakes) yang memeriksa tensi.
Dan tensi (tekanan darah) saya saat itu ada diangka 150. “Engga apa-apa, meski tensinya terbilang tinggi, tapi ini masih bisa disuntikan vaksin,” kata nakes.
Groginya saya diawal sangat mempengaruhi tensi tersebut. Sampai bisa mencapai angka itu berarti saya terlalu grogi.
Sebelumnya, saya bertemu dengan Ibu-Ibu (peserta vaksinasi) yang mengatakan sedang menunggu. “Iya sedang menunggu giliran vaksin, tapi tadi kata nakesnya saya harus nunggu 15 menit sampai tensi darahnya turun,” kata Ibu itu.
Begitupun dengan yang lainnya: Jika tensinya melebihi batas toleransi tidak segera divaksin, harus tunggu dulu sampai tensinya turun.
Setelah semuanya sesuai, kemudian saya diperintahkan untuk ke ruang vaksinasi. Untuk dilakukan penyuntikan ke lengan kiri saya. Lalu, asisten dokter menyiapkan vaksin dan menyerahkan suntikan kepada dokter. Akhirnya masuk pada tahapan inti: menancapkan jarum. Saya kira akan terasa begitu sakit. Ternyata tidak. Semua terasa ringan, seperti tidak terjadi apa-apa.
“Dosis kedua dapat dilakukan 20 hari setelah dilakukan penyuntikan awal,” kata dokter tersebut.
Suntikan vaksin kedua diperkirakan tanggal 25 September ini. Masih harap-harap cemas, karena bagaimana pun rasa deg-deg an pasti ada dan tidak bisa dibuat-buat untuk tidak grogi.
“PANJI PURNAMA (NIK: 32xxx03) NO TIKET VAKSIN KEDUA Anda Q-000QC04A, jdwl vaksin TGL 25Sep, DI MARGADADI,” bunyi pesan dari nomor 1199.
Oh iya, ada hal yang saya lupa tanyakan kepada dokter: Mengapa penyuntikan vaksin harus di lengan kiri? Agak menyesal sedikit karena lupa menanyakannya. Tapi tidak masalah, mungkin pembaca (Catatan Panji P) dapat membantu memecahkan teka-teki itu.
Saat ini, seseorang ingin divaksin bukan saja karena ingin sehat dan terhindar dari covid-19. Sudah banyak dari masyarakat yang melakukan vaksinasi karena tuntutan negara. Anda ke mall? Boleh asal tunjukan sertifikat vaksinasi; Anda ingin menaiki transporatasi umum? Boleh asalkan sudah vaksin; dan Anda ingin keluar kota? Juga boleh, asal menunjukan kartu vaksin. Kemanapun Anda boleh asalkan sudah vaksin.
Pada akhirnya masyarakat terdesak. Sehingga dengan terpaksa melakukan vaksinasi covid-19—agar dapat melakukan banyak hal dengan leluasa kemanapun. Apalagi yang suka berpergian. Karena jika sudah, kalian akan merasa bebas, seperti mendapat tiket kemana saja. Tinggal menyiapkan seberapa banyak uang Anda: untuk menunjang kemana-mananya itu. (Panji Purnama)
Ket: versi cetak akan terbit di MCB, Senin, (20/9/2021) mendatang.














