Kali ini saya sudah mulai kehabisan topik. Kalau menuliskan tentang pandemi sudah terlalu sering dan membosankan. Pasti yang akan dibahas adalah PPKM dan prokes (protokol kesehatan). Pembahasannya akan tidak jauh dari kedua hal itu.
Sepintas terpikir, apa saya akan menuliskan mengenai peristiwa 9/11 saja? Meskipun saat itu saya sudah lahir, tapi rasanya tidak ada ingatan yang membekas.
Entah saat itu saya sedang di mana dan berbuat apa. Tidak ingat. Tapi saat itu usia saya 5 (lima) tahun. Masih sangat kecil untuk bisa mengikuti sebuah peristiwa. Apalagi tidak dialami langsung. Hampir tidak mungkin untuk mengingatnya.
Pada 2001 se-usia itu rasanya tidak terlalu memperhatikan siaran televisi. Lebih banyak main di luar rumah atau asik dengan mainan mobil-mobilan dan miniatur lain.
Akhirnya, agar naskah ini dapat diselesaikan. Saya mulai mencari tahu lebih detail mengenai peristiwa 9/11 AS, yang menghebohkan dunia itu. Saya pun mendapatkan informasinya. Peristiwa 911 adalah tragedi berdarah.
Tragedi berdarah itu merupakan serangan dari sekelompok orang yang membajak pesawat komersial (Boeing 767). Satu atau dua orang dari kelompok tersebut memang dipersiapkan sebelumnya untuk mengemudikan pesawat itu. Kemudian menabrakkannya ke bagian utara gedung WTC (World Trade Center), New York.
Akibat hantaman pesawat ke gedung tersebut, setidak-tidaknya ada 3.000 orang meninggal dunia. Yang menjadikannya peristiwa paling berdarah di NY, Amerika.
Meskipun pengetahuan saya minim atas peristiwa 9/11 itu, saya tidak menyerah untuk mencari tahu lebih banyak lagi. Ternyata pesawat yang disengaja menabrakkan diri ke gedung WTC itu tidak hanya satu. Hanya berselang 18 menit, pesawat kedua (Boeing 737) menyusul menabrakkan diri ke bagian selatan lantai 60 menara WTC.
Pesawat kedua itu terbang lebih rendah (lantai 60). Dan berhasil merusak tangga darurat kedua dari tiga tangga darurat yang ada. Lalu kepulan asap yang membumbung tinggi itu terlihat dari tengah kota.
Melihat hal itu masyarakat pun panik dan berhamburan keluar gedung untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Yang saat itu awan pagi terlihat orange (berwarna oranye).
Kelompok yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut adalah jaringan teroris Al Qaeda. Yang kemudian sejak peristiwa 9/11 itu, pimpinan Al Qaeda Osama bin Laden menjadi target AS.
Sebetulnya WTC bukan satu-satunya target yang berhasil dihancurkan. Ada tempat lainnya diwaktu yang sama ditargetkan, yaitu: Pentagon di Washington DC.
Saya hanya bisa membayangkan peristiwa itu terjadi, di mana ada pesawat yang dibajak kemudian dikendalikan untuk ditabrakkan ke target (WTC dan Pentagon). Situasinya pasti menyeramkan sekaligus mencekam.
Jauh sebelum naskah ini ditulis, saya pernah dan ingat jika saya melihat tayang video salah seorang warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Amerika. Di salah satu vlognya, dia sempat berkunjung ke area gedung WTC–yang sekarang disebut ground zero.
Dari video tersebut, saya bisa melihat banyak nama-nama korban 9/11. Ribuan nama-nama korban tersebut ditulisan di dinding mengitari kawasan ground zero. Di tengah-tengahnya terdapat genangan air seperti kolam. Saya juga bisa melihat banyak turis yang mengambil gambar.
Gedung kembar WTC itu kemudian sudah rata dengan tanah, sehingga saat ini hanya dijadikan objek wisata dan sebagai monumen sejarah bahwa pernah terjadi peristiwa 911.
Bila ada kesempatan untuk ke negeri paman sam (AS), saya akan mencoba berkunjung ke beberapa tempat indah di sana, termasuk WTC itu yang sekarang sudah menjadi monumen sejarah. Karena dengan langsung datang ke tempat kejadianlah cara terbaik untuk memahami kondisi sebenarnya. (Panji Purnama)














