Apakah sebagian besar dari kalian tahu jika di Kabupaten Indramayu tempo doloe ada kereta api (selanjutnya disebut KA)? Ya, dulu sekali pernah ada rel kereta aktif yang menghubungkan antara Indramayu kota (Paoman), Jatibarang, dengan Karangampel.
Awalnya, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Undang-Undang Agraria dan Gula pada tahun 1870. Ternyata adanya penerapan UU tersebut berpengaruh pada masuknya pemerintahan liberal di Indonesia.
Kegiatan ekonomi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Terutama dibidang perkebunan dan tambang. Hal itu dipandang perlu adanya alat transportasi yang dapat mengangkut hasil perkebunan maupun pertambangan. Maka dibuatlah jaringan rel KA.
Sejarah Kereta Api Indonesia
Apabila menelisik sejarah perkereta apian Indonesia, rel pertama yang dibangun adalah Semarang-Tanggung. Rel Semarang-Tanggung di Desa Kemijen, Semarang itu selesai dibangun pada 17 Juni 1864. Kemudian tahun 1879 pemerintah membangun jalur Surabaya-Pasuruan-Malang.
Jadi, transportasi yang dianggap efisien pada zaman pemerintahan kolonial adalah KA. Maka tidak heran jika sebagian besar daerah di Indonesia ada banyak rel kereta bekas peninggalan kolonial. Salah satunya seperti yang ada di Kab. Indramayu, Jawa Barat.
Perkretaapian pada masa kolonial merupakan tinggalan arkeologis yang berharga, karena merupakan fakta sejarah yang melalui tinggalan tersebut kita dapat melakukan rekonstruksi serta identifikasi keterkaitan wilayah Indramayu dengan wilayah lainnya yang ada di Pulau Jawa. Kemudian dapat disimpulkan fungsi, peran dan potensi wilayah Indramayu di masa kolonial, yang dapat dimanfaatkan sampai saat ini.
Fase pembangunan rel yang terjadi dan gencar saat dilakukannya tanam paksa akan menunjukan fungsi transportasi dengan perkembangan wilayah dan komoditas khas wilayah Indramayu itu sendiri. Kurangnya kesadaran akan upaya inventarisasi data dalam pelestarian tinggalan perkretaapian, khususnya di wilayah Indramayu membuatnya tidak mudah untuk ditemukan dan diidentifikasi sehingga perlu penelitian terkait hal tersebut.
Jalur rel kereta api di Indramayu tidak lepas dari perkembangan wilayah Cirebon sebagai kota pelabuhan dan kota perdagangan yang sudah dikenal sejak abad ke 16. Hasil eksporasi dan eksploitasi sumber daya alam beberapa wilayah di Pulau Jawa diangkut dan dibawa ke Pelabuhan Cirebon. Selanjutnya diteruskan ke negaranya, baik untuk konsumsi maupun diperdagangkan secara internasional ke Malaka dengan komoditas beras yang paling terkenal.
Awal Perkereta Apian Indramayu
Pembangunan jalur rel kereta api semakin menguat ketika diberlakukannya politik tanam paksa Indramayu merupakan salah satu wilayah di bagian Utara Pulau Jawa yang dilalui oleh jalur rel kereta api pemerintah kolonial, yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), yakni perusahaan kereta api milik pemerintah Kolonial Belanda dengan jalur trem Jatibarang Indramayu pada tahun 1912.
Lalu Jalur Jatibarang – Karangampel ditahun 1926. Namun pada tahun 1932, jalur ini ditutup dan Jalur Haurgeulis – Arjawinangun yang merupakan bagian dari jalur utama Jakarta – Cirebon yang dibangun SS dan mulai beroperasi pada tahun 1912.
Saat ini jalur trem Jatibarang – Indramayu serta Jatibarang – Karangampel di wilayah Indramayu, merupakan jalur kereta api yang sudah tidak aktif dan berada pada wilayah kerja DAOP 3 Cirebon. Keberadaan jalur kereta api baik yang masih aktif, maupun yang sudah tidak digunakan merupakan bukti adanya hubungan atau keterkaitan antar wilayah dengan menggunakan mode transportasi massal, salah satu alasan terjadinya perkembangan wilayah adalah adanya peningkatan dan perkembangan transportasi publik.
Eksploitasi dan eksplorasi pemerintah kolonial yang terkait dengan tanam paksa diantaranya adalah komoditas tebu, ditunjukan dengan adanya beberapa pabrik pengolahan tebu menjadi gula di sepanjang jalur rel kereta api wilayah Cirebon dan Indramayu. Diantaranya pabrik gula Djatiwangi, Gempol, Khadipaten, Karangsoewoeng, Ardjawinangun, Paroengdjaja, Soerawinangun, Sindanglaoet, Nieuw Tersana, Leuweunggajah, Ketanggoengan West, Gistand Spiritus Fabriek.
Pembangunan mode transportasi kereta api di wilayah Indramayu pada masa kolonial mampu membangkitkan berbagai sektor kehidupan masyarakat. Bagi pemerintah kolonial diuntungkan dengan adanya transportasi yang cepat dan murah untuk mengirim hasil produk perkebunan mereka ke pelabuhan. Sedangkan bagi masyarakat umum, keberadaan transportasi kereta api memudahkan mereka mengirim dan memasarkan hasil pertanian dan kerajinan ke kota-kota lain yang dilalui jalur kereta api.
Selain untuk kepentingan ekonomi pembangunan perkeretaapian pada masa kolonial juga ditujukan untuk kepentingan pertahanan. Keberadaan kereta api akan memudahkan mobilitas pasukan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Tampak bahwa kereta api mempunyai peran besar dalam pengangkutan komoditas hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan pada masa Kolonial Belanda, khususnya di wilayah Indramayu. Pada sisi lain, tumbuhnya industri pertanian dan perkebunan juga mendorong peningkatan aktivitas manusia antar ruang antar wilayah. Wilayah-wilayah tertentu di sepanjang jalur kereta api juga turut berkembang menjadi pusat-pusat aktivitas manusia dalam skala yang awalnya kecil dan terus berkembang.
Pencarian dan penelitian transportasi pada masa Kolonial Belanda merupakan sesuatu yang menarik untuk diteliti lebih lanjut melalui tinggalan arkeologi berupa bangunan, jejak rel atau tinggalan lainnya sebagai bukti untuk menjelaskan secara ilmiah perkembangan transportasi kereta api terkait aktivitas ekonomi masa Kolonial Belanda. (Mahraj)
Penulis adalah mahasiswa Prodi Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institute Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon.















