TJIMANOEK.COM, INDRAMAYU – SD Negeri Dukuh, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat kondisinya nyaris ambruk. Hal itu dapat dilihat dari ruang kelas yang digunakan sebagai kegiatan belajar siswa dan siswi.
Guru SDN Dukuh, Siti Rochana Mulyati mengungkapkan, sampai saat ini sekolah dasar Dukuh belum memperoleh perbaikan sarana. “Satu-satunya SD yang sampai saat ini kondisinya semacam ini, seperti ini dan belum memperoleh kesempatan rehab (red: renovasi),” kata Siti melalui kanal You Tube Upi Musthofa Luthfi, Minggu (5/2/2023).
Meski begitu, dia berucap, pihaknya sudah mengupayakan untuk memperoleh kesempatan merenovasi bangunan yang rampuh/tidak layak tersebut. “Pihak kami sudah beberapa kali mengajukan,” katanya.
“Yang menjadi menyedihkan itu ketika kami mengajar kemudian hujan datang. Tidak ada penyinaran, keadaan agak gelap dan juga khawatir akan plafon ambruk,” ungkapnya.
Menurut pengamatan tjimanoek.com, kondisi sebagian besar bangunan sekolah sudah rapuh atau kurang layak digunakan untuk KBM. Bahkan, ruangan yang menjadi perpustakaannya pun sudah tidak lagi dapat digunakan: kondisi atap/palfon ambruk.
Pada ruang kelas lainnya, terlihat plafon sudah tidak utuh. Mirisnya lagi, bagian depan atas salah satu kelas yang terdapat tulisan, “Tangan di atas Lebih baik Dari pada Tangan di Bawah” kondisinya sudah ambruk.
Saat ditemui, Penjaga Sekolah, Dede mengatakan, ada seseorang yang datang melakukan pengukuran di lingkungan sekolah.
“Sudah ada orang yang datang dan melakukan pengukuran. Katanya mau dibangun September tahun ini,” kata Dede yang sudah bekerja 5 tahun di SDN Dukuh, Senin (17/7/2023).
Sementara itu, Ketua DPRD Kab. Indramayu, Syaefudin belum memberikan keterangan terkait SDN Dukuh.
Di tempat yang berbeda, Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah, O’ushj Dialambaqa mengatakan, sarana dan prasarana pendidikan sangat mempengaruhi kegiatan belajar dari para siswa.
“Kondisi sarana dan prasarana tanpa kecuali gedung yang dipakai untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti itu sangat buruk, dan imbasnya siswa tidak fokus belajar, sehingga bagaimana mungkin pendidikan dengan gedung yang rusak dan buruk bisa menghasilkan mutu untuk masa depan,” kata O’ushj, Senin (17/7/2023).
Ia menyebutkan bahwa bangunan sekolah yang buruk sebagai potret buruknya bupati dan alokasi APBD. “Potret buruk itu menunjukkan APBD tidak jelas arah, dan bupati juga buruk. Bupati lebih memilih tiktokkan dari pada berbenah, karena dengan modal tiktokkan berbagai penghargaan disandangnya,” terangnya.
“Potret buruk yang tercermin pada SDN Dukuh tersebut, menunjukkan APBD untuk urusan wajib dtelantarkan, tetapi untuk urusan yang bukan menjadi kewajibannya seperti hibah 4 milyar ke RS. Bhayangkara, hibah ke Polres 2 milyar, ke Unwir 4 milyar dan seterusnya,” ungkapnya.
Ia pun menyingung mengenai dana hibah yang telah digelontorkan oleh Pemerintah Daerah Kab. Indramayu ke beberapa instansi dan kampus.
“Begitu juga dari pada untuk memprioritaskan sarana dan prasarana pendidikan untuk masa depan bangsa, ternyata lebih utama anggaran itu dipakai untuk yang bisa bertiktok ria, yaitu dengan membangun benteng tirani Taman Puspawangi yang menelan APBD 7,6 milyar dan Puspa Pangan menelan 1 milyar, dan wara wiri dengan Dirut PDAM yang menelan APBD yang tidak kecil. Tak jelas juntrungannya,” jelasnya.
Tak ada pelajaran, Oo berkata, yang mampu menyadarkan Bupati Indramayu untuk peka terhadap kondisi sarana pendidikan di Kab. Indramayu. “Tak ada pelajaran yang bisa menyadarkan bupati tampaknya, sehingga hukum alamlah yang hanya bisa kita berharap. Untuk mengakhiri kesungsangan kekuasaan di Indramayu,” pungkas Oo.
Hingga berita ini dirilis, SD Negeri Dukuh itu masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Namun, kegiatan belajar dan mengajar tetap dilakukan di bagunan tersebut dengan penuh rasa kekhawatiran atau waswas.
TJ-1 / TJIMANOEK















