Indramayu – Virus korona atau Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) teridentifikasi masuk Indonesia pada, Senin, 2 Maret 2020. Dengan seketika hal itu merubah semuanya dan membuat semuanya tidak mudah.
Namun, kondisi itu tidak membuat Kopi Ulin berhenti menjajakan kopinya. Bertempat di Jalan Bima Basuki, Kelurahan Karanganyar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itulah dimana kopi ulin ada hingga sekarang.
Ahmad Ribhan (25), pemilik Kopi Ulin menjelaskan bahwa sejak awal hingga saat ini kopi ulin masih tetap eksis meskipun dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPK) Darurat.
“Kopi ulin mempunyai jargon: menjaga silaturahmi mempererat persaudaraan. Dengan kopi, setidaknya kopi bisa menjadi media untuk menjaga silaturahmi dan mempererat persaudaraan sejak 24 Mei 2017,” tutur Ahmad Ribhan, Jumat, 3 September 2021.
Pria yang kerap disapa Kang Aan itu membagikan cerita mengapa kopi ulin tetap konsisten dan bertahan di tengah pandemi virus korona.
Ia mengatakan ada banyak faktor yang membuatnya mampu konsisten dan bertahan meskipun menghadapi situasi yang tidak mudah karena penyebaran virus.
“Alhamdulillah masih bisa bertahan dikarenakan banyak faktor. Salah satu faktornya yaitu support (dukungan) dari diri sendiri dan keluarga, juga para pelanggan. Meskipun kopi ulin bertempat di pinggir jalan dan menggunakan gerobak atau kaki lima, dari segi pelayanan, kami semaksimal mungkin hingga seperti pelayanan bintang lima untuk memberikan pelayanan terbaik kami,” Kata Aan.
Sementara itu, Erul Mustaqim (25), salah satu pelanggan setia Kopi Ulin mengungkapkan bahwa dirinya dari awal pertama kali kopi ulin buka sudah menikmati kopi tersebut sehingga banyak mengetahui perkembangan kopi ulin.
“Sejak hari pertama buka. Jadi saya sebagai penikmat kopi tahu perkembangan dari kopi ulin. Entah dari segi pelayanan maupun mengenai penyeduhan kopi nya,” kata Erul Mustaqim, Jumat, 3 September 2021.
Saat ditanya mengapa memilih ngopi di kopi ulin, Erul mengatakan bahwa ngopi di kopi ulin sangat santai dan dapat berbagi cerita baik dengan pemilik kopi ulin maupun dengan pelanggan lainnya.
“Bisa ngopi sambil nyoal alias banyak cerita bareng ownernya (red: pemiliknya) midang (red: duduk santai) jadi lebih berkesan,” ucap Erul.
Saat Pandemi
Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan Covid-19 telah memasuki wilayah Indonesia, pada Senin, 2 Maret 2020. Sejak saat itu keadaan Indonesia semakin memburuk. Oleh karena itu, 3-20 Juli 2021, pemerintah memberlakukan PPKM Darurat Jawa-Bali.
Bayangkan saja kasus harian di Indonesia, per Kamis, 2 September 2021, mencapai 8.955 kasus baru yang terpapar Covid-19.
Melihat situasi itu, Ahmad Ribhan sebagai pelaku sangat berharap agar pandemi yang melanda dunia tak terkecuali Indonesia segera berakhir.
Ia juga menyinggung mengenai pelayanan kopinya di tengah situasi pandemi tersebut.
“Melihat situasinya, saya berharap agar ini semua segera berakhir. Kemudian saya pun akan memberikan kenyamanan pelayanan dan tempat. Meskipun berada di trotoar jalan, tepi suasana gedung tinggi dan kota tua menjadi nilai lebih kami, “ tutur Ahmad Ribhan.
Ia juga berharap pada pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di Indonesia, khususnya UMKM kopi di Kabupaten Indramayu agar dapat terus bertahan di tengah situasi pandemi korona.
“Harapan kedepan kami, semoga pelaku UMKM di Indramayu terkhusus kopi bisa menghadapi dan selalu kuat selama masa pandemi ini,” tegas Ahmad Ribhan.
Sejarah Kopi
Sejarah kopi di Indonesia tak terlepas dari peran kolonialisme Belanda, pada tahun 1696.
Kala itu, pertama kalinya Belanda membawa masuk benih kopi arabika untuk ditanam di pulau Jawa. sebagaimana disebutkan di dalam buku “Aroma, Rasa, Cerita” karya Yandhie Arvian Et Al yang dipublish (terbit) di Pusat Data dan Analisis Tempo Publishers.
Belanda pun telah melakukan perluasan penanaman kopi secara besar-besaran sejak 1696 dengan sistem tanam paksa. Kopi dianggap jadi komoditas menguntungkan, daerah penanamannya semakin diperluas.
Daerah yang dimaksud Sulawesi pada 1750, dataran tinggi Sumatera Utara dekat Danau Toba pada 1888, dan Gayo dekat danau laut tawar pada 1924.
Dalam buku Kopi “Aroma, Rasa, Cerita”, menyebutkan ekspor kopi asal Jawa pada 1726 sebanyak 2.145 ton membanjiri Eropa. Jumlahnya yang sangat banyak berhasil menggeser kopi Mocha asal Yaman yang kala itu jadi penguasa pasar. Sejak itu, kopi asal Jawa populer dengan sebutan Java Coffee.
Popularitas kopi Jawa di ranah Eropa sebelum itu sudah begitu tinggi. Hal itu bermula 12 tahun sebelumnya. Kala itu Raja Louis XIV meminta Wali Kota Amsterdam Nicholas Witsen untuk mengirimkan benih Coffea arabica var. arabica yang disebut juga Coffea arabica L. var. typica atau tipika.
Raja Louis mendengar berita soal tingginya harga kopi tersebut dalam lelang di Amsterdam. Ia ingin menjadikan tanaman kopi tersebut jadi salah satu koleksi kebun raya Jardin des Plantes di Paris.
Benih kopi pemberian Nicholas Witsen ini berasal dari bantaran Ciliwung, seperti Kampung Melayu dan Meester Cornelis, nama lama Jatinegara. Kawasan ini juga jadi wilayah awal perkebunan kopi di Jawa, yang bibit kopinya dibawa dari Sri Lanka.
Selanjutnya pada 1706, tanaman kopi berhasil tumbuh dengan baik di beberapa wilayah di Jawa. Untuk meneliti kualitasnya, Belanda mengirimkan benih kopi dari Ciliwung ke kebun botani di Amsterdam. Hasilnya, kopi tersebut berkualitas bagus.
Sementara benih kopi yang ada di Jardin des Plantes di Paris, dibawa oleh perwira angkatan laut Perancis ke Martinique, koloni Perancis di Karibia. Semakin tersebarlah kopi Jawa tersebut di dunia.
Perkebunan kopi di Indonesia pun semakin meluas. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Joan van Hoorn mulai mendistribusikan bibit kopi ke Batavia, Cirebon, kawasan Priangan, dan pesisir utara Jawa. Seperti Kopi Canggah, yakni kopi arabika produksi masyarakat Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Tak sampai di situ, pada awal 1720-an, Belanda juga mengirimkan benih kopi Jawa ke Suriname. Mereka ingin mengembangkan perkebunannya di sana.
Dari kedua wilayah tersebut, benih kopi Jawa semakin tersebar ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Jejak kopi Jawa di Amerika Latin, menurut Prawoto, masih bisa dilihat hingga sekarang. Terdapat tipika yang sama dengan yang berasal dari Jawa masa lampau di kebun kopi kawasan Amerika Latin.
(Panji/Adv)













