TJIMANOEK.COM – Saya rasa kita pernah mendengar kutipan, “Aku berpikir maka aku ada” yang diucapkan oleh Rene Descrates pada abad 16. Maka, tidak ada salahnya jika saya mengucapkan “aku menulis maka karena itu aku ada” di abad ke 21 ini. Sehingga, kita sebagai mahluk sosial dapat menunjukan keeksistensiannya—manusia berakal.
Kemampuan berpikir dan menulis itu dapat dilakukan salah satunya dengan apa yang disebut sebagai puisi. Puisi merupakan karya sastra yang memaksimalkan keindahan kata atau diksi dengan irama tertentu. Oleh karena itu, dengan puisi, kita mampu membangkitkan imajinasi pembaca maupun pendengar untuk ikut menyelami keadaan dan rasa dari karya sastra puisi itu sendiri. Penulisan, penggunaan bahasa, bait, dan rima akan mempengaruhi pengaktifan imajinasi terhadap pembaca dan pendengar atas karya sastra puisi itu.
Apa Artinya Negeri ini, Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca, dan Habis Sudah Kata Kataku adalah puisi trilogi yang ditulis oleh O’ushj Dialambaqa dengan penuh kemirisan dan kepasrahan tentang keadaan negeri ini. Apa Artinya Negeri Ini ditulis dengan kemirisan soal pendidikan formal yang tidak mampu memberikan kepekaan seseorang terhadap persoalan-persoalan di negeri ini. Namun, tidak hanya itu, penulis juga menggambarkan keadaan rakyat yang tinggal diam atas situasi yang terjadi di negeri ini. Alhasil, semua elemen (kalangan) bertanggungjawab terhadap sumbangsih kebobrok negeri ini.
Sinisme dalam “Apa Artinya Negeri Ini” terlihat dan terbaca dari awal larik dari setiap baitnya. Bagaimana seseorang yang mengenyam pendidikan formal, akademisi, para penulis, dan rakyat tidak dapat memberikan arti dari sebuah negeri ini. Korupsi terjadi di mana-mana, kabar bohong (hoax) mewarnai media sosial dan surat kabar, gelap, dan pengap merupakan gaya bahasa Penulis untuk memberikan imajinasi kondisi negeri ini.
Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca menjadi kemirisan selanjutnya. Setiap hari terlihat, terbaca, dan terdengar korupsi terjadi di mana-mana, tidak ada lembaga yang suci yang tidak lolos dari perkorupsian. Hal ini diperparah lagi dengan praktik pelacuran intelektual yang lebih memilih untuk menghamba kekuasaan.
Sinisme pada puisi Saban Hari Kulihat, Kudengar, dan Kubaca lebih menggigit ketimbang puisi pertama (Apa Artinya Negeri Ini). Itu terlihat, terbaca, dan terdengar dari gaya bahasa yang penulis tulis. Misalnya, perkorupsian makin menggila dan gila-gilaan, tipu daya, kemunafikan, pengkhianatan, omong kosong, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, kemenggigitan gaya bahasa itu too much (terlalu banyak). Sehingga, puisi tersebut terlalu terlihat, terbaca, dan terdengar monoton. Seperti, “Podcast topeng topeng” yang bisa diganti dengan “podcast topeng yang tak ada duanya”. Maka, akan terlihat puitis dan tidak terlalu kaku.
Puisi terakhir, Habis Sudah Kata Kataku, tidak menjadi kemirisan yang kental. Tetapi, sebuah kepasrahan penulis yang sudah muak dan kehabisan kata-kata karena melihat begitu banyaknya ketidakwarasan. Hal itu terkata dalam larik “aku kehilangan kata kata. bla bla bla”.
Tak hanya di situ, kepasrahan penulis juga terlihat, terbaca, dan terdengar dari larik “logika dan akal waras tak lagi bisa memaknai sunyi dalam senyap”. Dimana kekuatan manusia, baik logika maupun akal adalah kemampuan luar biasa yang tentu dapat memaknai sunyi dalam senyap, diam dalam senyap, dan sunyi tersembunyi.
Rima dari puisi trilogi tersebut kurang begitu berwarna yang disebabkan oleh penggunaan gaya bahasa: monoton, padahal bisa menggunakan alternatif gaya bahasa lain. Mengapa gaya bahasa dan rima penting? Sebab, pembaca dan pendengar akan dapat terasa menyelami (berimajinasi) keindahan sebuah puisi dengan gaya bahasa dan rima yang lebih berwarna.
Ada beberapa gaya bahasa yang sebenarnya dapat digunakan dengan bahasa yang lebih berwarna agar tidak begitu kaku. Misalnya, dalam puisi “Habis Sudah Kata Kataku” pada bait ke tiga yang tertulis, “Habis sudah kata kataku dalam senyap”. Dapat digunakan diksi “dilahap” untuk menggantikan kata “dalam”. Habis sudah kata kataku dilahap senyap.
Puisi trilogi dari O’ushj Dialambaqa akan disajikan terpisah (Bagian 1 sampai 3) di tjimanoek.com—Anda juga bisa membacanya di situ. Selamat membaca dan menyelami dunia dari si Penulis. Singaraja, 7 Juni 2023. (Panji Purnama)















