Menulis Kreatif

Home / Opini

Selasa, 11 Oktober 2022 - 20:31 WIB

Nandur Politik

Presiden Jokowi bertemu dengan petani di Kab. Indramayu. (foto: jokowi).

Presiden Jokowi bertemu dengan petani di Kab. Indramayu. (foto: jokowi).

TJIMANOEK.COM Politik itu bisa membuat seseorang merubah kebiasaannya. Tidak pernah nandur (bukan profesinya), akan melakukan nandur untuk meningkatkan citra politik. Berharap ikut naik elektabilitasnya. Apapun yang dianggap dapat mendompleng, pasti dilakukan. Itulah politik. Kira-kira begitu bukan?

Salah satu contoh nandur politik, yaitu seperti yang dilakukan oleh Puan Maharani. Puan datang ke Desa Sedang, Bali untuk melakukan nanam mundur (nandur) padi varietas inpari 32. Varietas tersebut diklaim mampu menghasilkan 7-9 ton per hektar. Sayangnya, publik merespon nyeleneh dan ada benernya.

Publik menilai bahwa Ketua DPR RI itu telah mensalah artikan nandur karena menanam padinya berjalan maju. Hal itu di luar kebiasaan petani yang menanam padi secara mundur. Makanya disebut dengan nandur—nanam mundur. Apabila dilakukan secara maju bukannya akan menginjak padi itu sendiri? Itu jelas salah.

“Saya baru tahu para petani di Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali menanam dengan cara yang berbeda,” kata Puan di sosmednyi.

Ternyata berbeda yang dimaksud oleh Puan adalah area tanam padinya. Di Sedang, area dibentuk segi empat. Sedangkan di Jawa, mengikuti garis lurus. Di Sumatera berbeda lagi, katanya.

“Makin kedepan ternyata tanahnya (di Sedang) makin dalam,” katanya bicara kondisi tanah di sawah Sedang, Kabupaten Badung, Bali.

Perbedaan yang disebutkan Puan itu bukan masalah penanaman atau nandur, tetapi mengenai teknis petak sawah untuk ditanami padi. Sehingga, esensi nandur memang sebenarnya terkait menanam padi secara mundur. Bukan metak-memetak. Itu soal teknis saja. Kalau nandur, yaa filosofinya nanam mundur.

Baca Juga:  Panji Aksara dalam Tulisan

Selain itu, ada tradisi berkaitan dengan petani padi. Anda mungkin sudah tahu: “Mapag Sri”—mapag adalah bahasa jawa (java), artinya menjemput, sedangkan Sri merupakan Dewi (Dewi Sri), Dewi Padi. Sri itu artinya padi. Maka, Mapag Sri adalah menjemput padi yang dimaknai dengan panen padi.

Mapag sri itu sendiri merupakan budaya rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen padi. Biasanya kepala desa akan melakukan musyawarah dalam menentukan hari mapag. Dengan tradisi ini, para petani menaruhkan harapan atas panennya: memuaskan atau melimpah.

Kembali lagi pada persoalan nandur politik. Mengapa Puan Maharani melakukan itu? Jawabannya karena politik kepentingan di Pilpres yang akan datang, 2024. Nandur politik yang saya sebut ini sebenarnya tidak hanya mengenai nandur padi atau nandur tanaman lain. Akan tetapi, bermakna luas. Bisa saja politisi X melakukan kegiatan A, lalu disebut dengan nandur politik. Karena memang tujuannya jelas politik—Ingin dikenal/menjangkau banyak orang/kalangan. Merebut simpati, ngono lho.

Keunikan politik seperti itu adanya. Masih dua tahun lagi, tetapi persiapannya sekarang-sekarang ini. Bagi politisi, 2022 ke 2024 amat singkat. Saking dianggap singkatnya, masyarakat dilupakan. Banyak pejabat pakai fasilitas negara untuk kepentingan pribadi atau kelompok (partai). Tujuannya kesana kemari untuk nandur politik. Nandurnya tidak salah, yang salah adalah penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan atau kelompoknya itu.

Baca Juga:  Perkembangan Covid-19 Hari Ini, Jokowi Ingatkan Jangan Lengah

Berdasarkan penjelasan tersebut, nandur politik harus juga dipahami masyarakat luas. Kita tahu politik begitu kompleks. Salah-salah kita masuk terseret pada persoalan korupsi politik, money politic (politik uang), dan sejenisnya. Itulah yang harus dicegah. Jika sudah terjerembab, habislah nilai moral dan integritas kita. Oh iya, reputasi juga akan lenyap.

Penuh kesadaran, bahwa politik sangat mempengaruhi kemajuan bangsa sampai lingkup terkecil. Masyarakat harus memahami itu. Kalaupun ada yang menganggap politik itu kejam dan kotor, bukan berarti mengabaikan atau menghindarinya. Kita perlu membuatnya (politik) agar tidak jahat dan bersih.

Mudah saja kita menilai para politisi. Lihat dan cermati sikap, ucapan, dan tindakannya. Agar kita terhindar dari kebusukan politik: janji palsu. Pada dasarnya nandur politik adalah tindakan positif. Menjadi negatif karena cara nandur dan hasil panennya tidak untuk kemaslahatan banyak orang. Oleh karenanya, jaminan kemaslahatan itu ada pada diri kita masing-masing. Karena diri kita saling menentukan nasib satu sama lain. (Panji Purnama)

Share:

Baca Juga

Oushj dialambaqa, dirut pdam, penyair singaraja,

Opini

Rempang Menulis Air Mata Luka Nestapa dalam Sejarah Kelam (Studi Kasus Proyek-PSN-Rempang Eco City-Xyni-China) Bagian 2 dari 4 Tulisan
Oushj dialambaqa, dirut pdam, penyair singaraja,

Opini

Rempang Menulis Air Mata Luka Nestapa dalam Sejarah Kelam (Studi Kasus Proyek-PSN-Rempang Eco City-Xyni-China) Bagian 3 dari 4 Tulisan
panji purnama, catatan panji purnama, panji, catatan panji p,

Opini

Penghargaan, Kesenjangan, dan Reputasi
panji purnama, catatan panji purnama, panji, catatan panji p,

Opini

Cuek PPKM
panji purnama

Opini

Vaksinasi Moderna Kedua
panji aksara, panji, panji purnama, catatan panji purnama, tulisan, karya panji,

Opini

Sampah Kejaksaan Negeri Indramayu Berkedok Karya Tulis Ilmiah
oushj dialambaqa, direktur pkspd, istana

Opini

Ketoprak Istana, Lelucon dan Kekonyolan Pasca G30S-KPK
oushj dialambaqa

Opini

APDESI dan Tiga Periode, Antara Kepala dan Dengkul Terlampau Jauh Terbentang