Apa-apa sekarang serba warna merah. Memang wajar suatu daerah berganti kepemimpinan. Saya sedang membicarakan Kabupaten Indramayu, yang letaknya 207 kilo meter dari Ibu Kota (Jakarta) dan 180 km dari Ibu Kota Provinsi Jawa Barat (Bandung). Strategis, bisa kemana-mana (mobilitas).
Mulai pergantian kepemimpinan atau Kepala Daerah Kab. Indramayu pada pemilihan di Desember 2020 (dilantik bulan Februari 2021), Anna Sopanah kepada Nina Agustina yang sebetulnya tidak langsung ke Nina. Ada peristiwa politik terlebih dahulu, yakni Anna mengundurkan diri sebagai Bupati Indramayu saat itu dengan alasan ingin fokus merawat orang tua dan suaminya (Irianto Mahfudz Sidik Syaifuddin atau akrab disapa kang Yance).
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Indramayu mengiyakannya dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun begitu, maka Supendi (Wabup) menggantikan posisi Anna Sophana. Lalu, Supendi terseret kasus suap pengadaan proyek Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Kemudian, Ketua DPRD Kab. Indramayu Taufik (Partai Golkar) menggantikan Supendi yang terbukti menerima uang suap dari pemborong (kontraktor).
Mengapa saya mengatakan pergantian kepemimpinannya dari Anna Spohana kepada Ninan Agustina langsung, karena disaat itu terjadi peristiwa demokrasi yang disebut dengan pemilihan kepala daerah. Supendi dan Taufik hanya menggantikan saja tanpa melalui proses demokrasi (pemilihan).
Setelah resmi dilantik, apa-apa merah itu terjadi. Yang saat ini saya bicarakan. Hal itu saya yakini tidak terlepas dari latar belakang politik sang Bupati Nina Agustina, yang berasal dari PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)—logonya kepala banteng dengan dominasi warna “merah”. Merah adalah warna kebanggaan (kebesaran) partai tersebut.
Ilmu semiotik
Membicarakan warna atau tanda perlu dikaitkan dengan ilmu semiotik. Dengan ilmu tersebut, Anda dapat menganalisis makna dari suatu tanda.
Semiotik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hubungan antara sistem tanda dan lambang dalam kehidupan manusia. Jadi, apabila digabungkan Ilmu dengan Semiotik memiliki pengertian ilmu yang berhubungan dengan tanda dan lambang dalam kehidupan manusia. Sederhananya disebut sebagai ilmu yang mempelajari tentang tanda.
Ilmu ini lazim digunakan untuk menganalisis tanda yang tidak terbatas pada benda (Zoest, 1993: 18). Ferdinand de Saussure (1857-1913) mengenai semiotika mengatakan selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, di belakangnya harus ada sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu.
Sementara, Charles Sander Pierce, Semiotika adalah penalaran logika manusia melalui tanda, yang manusia hanya bernalar melalui tanda. Keduanya memuat benang merah tentang semiotika. Bahwa semiotika adalah tanda yang kemudian dilalui proses berpikir manusia dalam memaknai tanda itu.
Jika dikaitkan dengan pembahasan naskah ini (apa-apa merah), tentu warna merah adalah sebagai tanda. Dan tanda tersebut memiliki makna yang dalam ilmu semiotika dapat diambil kesimpulan atau maknanya.
Apa-apa Merah
Kepala banteng (hitam) dan warna merah medominasi tentu mempunyai makna (PDIP). Makna itu dapat dipelajari dan dinalarkan melalui metode semiotika dalam ilmu semiotik. Warna merah tersebut tentu berkaitan sekali dengan Bupati Indramayu Nina Agustina yang berasal dari PDIP.
Bisa kita lihat saat ini warna merah mendominasi hampir disegala hal. Misalnya saja: jembatan, kedinasan, dan pakaian. Semuanya diberi warna merah yang begitu dominan. Apakah itu tidak bisa kita maknai? Tentu bisa. Mungkin analisis asalnya (dugaan), warna merah itu sebagai simbol politik kekuasaan dan eksistensi. Simple (sederhana) nya, ini loh kita.
Jika kita memerhatikannya, beberapa (jembatan, kedinasan, pakaian) tersebut bukan kebetulan semata atau ujug-ujug ingin merah saja tanpa ada alasan di baliknya. Itu hanya contoh kecil saja, mungkin lebih luasnya pakar semiotik dapat mengungkapkannya.
Merah bertanda sebagai keberanian tidaklah salah. Merah sebagai eksistensi penguasa pun tidak salah. Coba saja terapkan teori itu. Lalu, apa makna warna merah yang mendominasi di mana-mana bagi Anda?
Jika Bupati Nina Agustina memahami konsep bernegara, harusnya ia melepaskan identitas politiknya dalam warna mewarnai. Karena dirinya saat ini sebagai kepala daerah bukan pemuas kepentingan partai atau kelompok semata. Sudah jadi milik masyarakat yang perlu disejahterakannya. Pun apabila Nina cermat, banyak hal yang lebih penting ketimbang melakukan “apa-apa merah”. (Panji Purnama)














