Menurut Oushj, produksi padi harus dilihat secara menyeluruh karena banyak indikator dan variabelnya. “Kita coba percaya tapi kepercayaan itu tidak berhenti di situ saja, karena produksi padi itu banyak indikator dan atau variabel yang menentukan. Tidak bisa digeneralisir apalagi berbeda daerah. Itu juga menjadi omong kosong,” ucapnya.
Ia mengatakan, kondisi tanah di Kabupaten Indramayu dengan Serang sangat berbeda. Di Indramayu, katanya, mempunyai tiga karakter tanah yang berbeda-beda.
“Kondisi Serang dengan Indramayu tentu berbeda dari struktur tanahnya. Lahan pertanian Indramayu mempunyai 3 karakteristik tanahnya, yaitu: aluvial, podzolik dan margalit. Indramayu kondisi tanahnya kini sudah abnormal, c-organiknya sudah jauh di bawah 5%nan, begitu juga mineral, H2O dan 02-nya. Karena kondisi tanah normal yang dikatakan subur adalah dengan kandungan C-organik: 45%, Anorganik: 5%, H2O: 25%, dan 02: 25%,” terangnya.
“Untuk pola tanam juga berpengaruh secara signifikan, mulai dari pentraktoran pengolahan sawah, jarak tanam, waktu pemupukan, waktu penyemprotan pestisida, iklim dan seterusnya,” lanjutnya.
Proses tanama yang tidak serempak, kata Oushj, dapat berpengaruh pada datangnya hama padi. “Pola tanam yang semaunya sendiri, iklim (hujan dan panas, kelembaban), dan ketidak serempakan tanam juga akan berpengaruh pada persoalan hama dan serangan hama. Tidak saja serangan hama seperti wereng, sundep, keong, tikus, kupu-kupu ulat, serangga pengencing batang padi, dan pembengkakan akar jika pola pemupukan tidak benar. Itu juga soalnya,” jelasnya.
“Untuk menguji omong kosong tersebut, seharusnya penemu varietas Trisakti itu secara profesional mempertaruhkan harga dirinya dengan melakukan demplot, minal disetiap kecamatan untuk desa dilakukan demplot dengan luasan 1 hektar. Hal itu penting untuk pembuktian apakah benar 1 ha menghasilkan 20 ton GKG atau 20 ton GKP,” kata Oushj.
Ia juga mengatakan, apabila terbukti varietas padi trisakti menghasilkan 20 ton/ha baru kemudian disosialisasikan. “Jika itu benar terbukti, baru Bupati bicara dan sosialisasi dan bahkan mewajibkan petani tanam varietas Trisakti yang bisa memakmurkan kesejahteraan petani dengan padinya,” tuturnya.
Oushj memberikan alasan mengapa pihaknya menyebut itu omong kosong, karena seharusnya Kab. Serang surpul padi. “Kenapa PKPSD katakan itu omong kosong, karena jika itu benar kenapa di Kab. Serang dan atau Prop. Bantennya saja tidak menaman varietas Triksakti. Jika benar tidak omong kosong, tentu Serang dan atau Banten surplus dan atau swasembada beras bahkan Presiden Jokowi via Kementan membuat kebijakan baru pertanian agar kita tidak ketergantungan impor beras dari luar seperti dari Vietnam, Kamboja, Birma atau Thailand. Kita nol besar dengan negara-negara yang tahun 1975an masih perang saudara,” ucapnya.
“Omong kosong itu pula jika kita sandingkan dengan data produksi 2020-2021 di Serang sendiri, 1 ha hanya mencapai 5,7 ton (data IP: Indeks Pertanaman Kab. Serang),” ungkapnya.















