Menulis Kreatif

Home / Daerah

Sabtu, 11 Desember 2021 - 10:05 WIB

Oushj Dialambaqa Bacakan Sajaknya di Hadapan Pegiat Anti Korupsi

Oushj Dialambaqa saat berbicara mengenai tindak pidana korupsi dalam forum

Oushj Dialambaqa saat berbicara mengenai tindak pidana korupsi dalam forum "Hari Anti Korupsi Sedunia" pada, Kamis, 9 Desember 2021.

TJIMANOEK.COM, Indramayu – Penyair asal Singaraja, Kabupaten Indramayu, Oushj Dialambaqa membacakan sajaknya berjudul “Kita dan Negeri Ini“ di hadapan Ketua DPRD Indramayu serta para pegiat anti korupsi saat memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia 2021 di gedung DPRD Indramayu, Kamis, 9 Desember 2021.

Oushj pada kesempatan itu tidak hanya membacakan sajak karyanya saja. Akan tetapi, dirinya juga menyoroti beberapa kasus tindak pidana korupsi yang macet dalam penegakannya, baik di Kepolisian Resor Indramayu (Polres Indramayu), Kejaksaan Negeri Indramayu, dan Inspektorat Indramayu.

Ia mengaku, pembacaan sajak Kita dan Negeri ini saat peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia sudah dipersiapkan sebelumnya. “Sajak tersebut sudah saya siapkan untuk saya bacakan ketika saya dalam forum harus berhadapan dengan nurani yang mati dan bisu tuli. Jadi jika saya harus berhadapan dengan banyak orang tidak waras, saya harus bersikap tidak waras dalam meresponnya, karena saya tahu mereka ngomong tanpa logika dan akal waras,” tutur Oushj kepada tjimanoek.com, Sabtu, (11/12/2021).

Saat ditanya mengenai motivasinya membacakan sajak tersebut, Oushj mengatakan agar manusia sadar akan banyak hal. “Motivasinya, agar manusia bisa melek dan bisa membaca tanda dan penanda dalam banyak hal, sehingga nuraninya tetap berdenyut dan berbicara. Logika dan akan warasnya tetap bicara, karena di negeri ini, kejujuran dan intelektualitas akademik adalah barang langka,” tegasnya.

“Jadi setiap dalam forum resmi saya selalu membaca sajak di awal atau akhir saya bicara, karena melihat ketidakwarasan,” ungkapnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa pembacaan sajak tersebut tidak ditaruh harapn. “Saya tidak menaruh harapan apapun setelah saya bicara dan atau setelah sajak dibacakan,” kata Oushj.

Kemudian dia mengungkapkan alasannya mengapa tidak berharap terhadap pembacaan sajaknya. “Jika saya menaruh seberkas harapan, saya akan kecewa, akan frustasi dan akan merasa lelah. Karena saya tidak menaruh harapan pada politisi, APH sekarang ini, maka saya tak pernah merasa lelah bicara kemanusiaan, kekuasaan dan Tuhan, sekalipun saya tahu, bahwa dengan menulis sajak dan membaca sajak dan atau bicara kekuasaan yang korup tidak bisa merubah apa-apa, tapi paling tidak, saya tengah berikhtiar untuk melepaskan dosa sosial dari perkara takdir sosial bangsa dan negara ini pun di Indramayu,” bebernya.

Baca Juga:  Menyoal Al-Zaytun: Membaca Ambiguitas MUI Pusat

Lanjutnya, “Dalam situasi tidak waras dan gila dan atau gila-gilaan, maka yang harus menjawab adalah sebuah sajak. Nah jika sajak itu dianggap gila, ya menang harus gila-gilaan dalam merespon situasi,” kata Oushj.

“Semua itu merupakan tanggung jawab moralitas saya sebagai manusia untuk menunaikan tugas kekhalifahan Tuhan yang dibebankan pada manusia, dalam hal ini saya sebagai hamba-Nya,” pungkas Oushj Dialambaqa.

Sajak Kita dan Negeri Ini

Kita dan negeri ini makin jauh dari republik dan demokrasi. perkorupsian dan perampasan ham marak dan semerbak. kekuasaan membatu dalam jiwa. menumbuhkan dan menyuburkan hasrat keabadian. seperti akar alang-alang dan rumputan tak kenal musim. sekalipun kemarau. merambat dan menjalar kemana-mana. menjadi semak-semak belukar tempat binatang melata menyembunyikan diri dan binatang-binatang buas saling berebut kekuasaan.

Kita dan negeri ini makin jauh dari republik dan demokrasi. perkorupsian dan perampasan ham marak dan semerbak. membaca angin membaca laut membaca ombak membaca gelombang membaca hasrat dalam jiwa selalu menyala untuk menghidupkan kembali tahta dalam kekuasaan. musim memang silih berganti. arah angin tak bisa dipungkiri. itu kata politisi. aroma membusuk bisa dibalsem dengan duit. yang tersaji dalam gambar elok sekali. mengundang wartawan dan televisi dan diunggah ke medsos dengan narasi melawan caci maki.

Baca Juga:  Hari Anti Korupsi Sedunia, Oushj Dialambaqa: Pemberantasan Korupsi Indonesia Model Sinetron Kejar Tayang

Kita dan negeri ini makin jauh dari republik dan demokrasi. perkorupsian dan perampasan ham marak dan semerbak. angin dan ombak dan gelombang yang menderu dalam senyap. menuju ke jalan sunyi menjadi literasi peradaban dan literatur bagi kita. di sini, di negeri ini, tahta dan kekuasaan makin jauh dari republik dan demokrasi. oligarki, pecundang dan para penghamba telah menguasai akal budi. kaya miskin setali tiga uang. demokrasi dan ham menjadi duri bagi politik dan kekuasaan. membusuk dalam denotatif dan menjadi racun dalam konotatif. republik dan demokrasi makin menjauh dari kita. perkorupsian dan perampasan ham makin menjadi-jadi.

Kita dan negeri ini makin jauh dari republik dan demokrasi. tapi semakin lengket dengan korupsi dan makin tertawan oligarki. makin lekat dengan hutang luar negeri. negeri ini semakin tidak peduli dengan derita dan nestapa ibu pertiwi. sejarah kekuasaan. hanya melahirkan si malin kundang dan sengkuni. demokrasi makin tenggelam. korupsi makin garang dan menjadi-jadi. anak-anak yang baru melihat dunia sudah dihisap oligarki sedangkan rahim ibunya belum genap empat puluh hari. mereka menangis tak henti. tapi siapa yang bisa? negeri ini sudah bisu tuli  dan tak lagi punya hati. matanya pun telah gerhana pula. petir menyambar bersahut-sahutan di siang bolong. tak ada mendung apalagi hujan. malam begitu senyap dan sunyi. perkorupsian dan perampasan ham terus terjadi. demokrasi tenggelam dan hanyut ke samodra kekuasaan oligarki. (O’ushj.dialambaqa, Sajak: Kita dan Negeri Ini, Singaraja 1/5/2021-8/12/2021).

(PP)

Share:

Baca Juga

bupati nina, nina agustina, satgas bpr kr, bpr kr, persoalan bpr kr, bpr kr indramayu, kpm, bumd, bank perkreditan rakyat, rinto bpr, sekda rinto waluyo, kredit macet indramayu,

Daerah

BPR KR Indramayu Memiliki Beban Rp 72 Miliar kepada 600 Nasabah: Satgas Fokus Buru Debitur ‘Nakal’, Nasabah Gigit Jari
bupati indramayu, nina agustina, forum asia pasifik, pekerja imigran

Daerah

Nina Bicara Mengenai Pekerja Imigran di Forum Asia Pasifik, Oushj Dialambaqa: Sungguh Memalukan
Taryadi, anggota DPRD Kabupaten Indramayu,

Daerah

Lahan Pabrik Gula Jatitujuh, Kok Sampai Ada yang Harus Mati?
rs bhayangkara losarang, bupati nina, nina agustina, dana hibah, pemkab indramayu, polri, polres indramayu, polisi,

Daerah

DPRD Indramayu Tolak Dana Hibah ke RS Bhayangkara Losarang, Bupati Nina Tetap Kucurkan Rp 4 Miliar
bpr kr, bank perkreditan rakyat, bpr kr kabupaten indramayu,

Daerah

BPR Karya Remaja Indramayu Sengkarut, Bupati Nina Bisa Apa?
alun-alun indramayu, alun-alun lama indramayu, pendopo kabupaten indramayu, indramayu jawa barat,

Daerah

Satuan Kerja Perangkat Daerah Indramayu Didominasi Pelaksana Tugas Sampai Rangkap Jabatan
bupati indramayu, nina agustina, desa eretan wetan, banjir indramayu,

Daerah

Salah Satu Penyabab Banjir Rob di Desa Eretan Wetan Indramayu
nina, nina agustina, bupati nina, bupati indramayu, kadis indramayu, sepatu, sedekah 1000 sepatu, bupati nina bagi bagi sepatu,

Daerah

Direktur PKSPD Bongkar Kebusukan Bupati Nina