TJIMANOEK.COM, Indramayu – Bupati Indramayu Nina Agustina menelpon salah satu wartawan dari media online suaraaktual, M. Taufid pada, Selasa, 14 Juni 2022.
Hal itu terungkap melalui tulisan Muhammad Taufiq dengan judul “Indramayu Butuh Penghargaan atau Kritikan?” di suaraaktual, Kamis, (16/6). Diungkap dalam tulisan tersebut, Bupati Nina merasa terganggu dengan pemberitaan suaraaktual berjudul “Akademisi UNJ Soroti Kebijakan Bupati Indramayu terkait Pemberian Sepeda Motor” yang rilis pada hari, Selasa, (14/6) pukul 08.51 WIB.
Di dalam pemberitaan, Akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun mengatakan, anggaran sepeda motor lebih baik digunakan untuk beasiswa atau pupuk para petani.
“Kepala Desa itu sudah punya kendaraan bermotor, tidak perlu motor roda dua. Uang untuk beli 317 motor tersebut lebih baik diberikan untuk memberikan beasiswa generasi muda Indramayu atau untuk membantu pupuk petani dan lain-lain,” kata Ubedilah.
“Jumlah rupiahnya saya perkirakan bisa mencapai Rp. 6 milyar lebih,” terangnya.
Muhammad Taufiq dalam tulisannya menyebutkan, ada tiga poin yang diucapkan oleh Bupati Nina melalui sambungan telepon kepada wartawan suaraaktual, M. Taufid.
Pertama, Bupati Nina mengatakan bahwa dirinya adalah seorang lawyer (pengacara). Sehingga, kebijakan pemberian sepeda motor kepada Kepala Desa/Kuwu tidak menyalahi aturan. Kedua, Bupati Nina meminta agar suaraaktual memberikan pemberitaan yang positif karena dinilai akan mempengaruhi investasi ke Kab. Indramayu. Ketiga, Bupati Nina mengungkit masa pemerintahan sebelumnya.
Sementara itu, Pemerhati Kebijakan Publik, Panji Purnama mengatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh Bupati Nina dengan menelpon wartawan adalah wujud nyata sifat pemerintah daerah saat ini.
“Bupati menunjukan sifal otentiknya dengan cara-cara yang amat rendah. Sehingga, kesimpulan awal dapat ditarik bahwa akalnya hanyut terseret arogansi kekuasaan,” kata Panji Purnama kepada tjimanoek.com, Jumat, (17/6) sore.
“Wajah pemerintah daerah saat ini dapat dilihat dari pemimpinnya, yaitu Bupati Indramayu. Sedangkan, bupati seperti kehilangan nalar-akal untuk berpikir secara ajek,” tuturnya.















