Oleh O’ushj.dialambaqa*)
Kami Poetra dan Poetri Indonesia
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe,
Tanah (Air) Indonesia.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe,
Bangsa Indonesia.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia,
Mendjoengdjoeng Bahasa Persatuan,
Bahasa Indonesia.
(Soempah Pemoeda, Djakarta, 28 Oktober 1928)
Kongres Pemuda 1 diselenggarakan pada 30 April-2 Mei 1926, yang diikuti oleh seluruh organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Minahassache Studeerenden, Jong Batak, Jong (Pemuda) Betawi, Jong Celebes, Sekar Roekoen dan Pemuda Timor. Bertujuan untuk membangkitkan semangat kerja sama antara berbagai perhimpunan pemuda dan mencari dasar persatuan bagi Indonesia.
Kongres Pemuda II diselenggarakan pada 27-28 Oktober 1928, melahirkan deklarasi kesadaran kolektif kebangsaan. Rumusan tersebut ditulis dalam teks tertulis dengan ejaan Van Ophuysen oleh Mohammad Jamin (sastrawan kelahiran Sawahluntor-Sumatra Barat, 1903-1962). Imaji liar pada Kongres Pemuda I tersebut adalah menuju arah anak panah persatuan pemuda yang kemudian ditindaklajuti dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan kesepakatan dan Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda I dan II, mengabstrasikan secara imajiner bagiamana Indonesia bisa meng-ada dan atau menjadi kenyataan yang nyata, dimana dari Sabang hingga Merauke yang terdiri dari pulau-pulau dan kepulauan dengan beragam suku, adat istiadat dan bahasa berada di bawah kependudukan kolonial. Imajinasi untuk mengabstrasikan Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat harus menjadi ruh perjuangan, dan itu tidak gampang, sehingga untuk mencapai tujuan itu harus dikuatkan dengan adanya Sumpah Pemuda sebagai sebuah konsensus ke-Indonesia-an harus dinyatakan.
Teks Sumpah Pemuda oleh Sutardji Calzoum Bachri (yang distempel sebagai Presiden Penyair) dikatakannya sebagai puisi, Indonesia lahir dari puisi. Teks Sumpah Pemuda yang disetuskan pada tahun 1928 adalah puisi. Ketika para pemuda mencetuskan Sumpah Pemuda, Indonesia belum ada, masih dalam bentuk imajinasi. Dalam puisi, imajinasi adalah hal utama (Sutardji Calzoum Bachri dalam pidato Sastra Mengenang Chairil Anwar, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis, 23/5/2013).
Sumpah Pemuda sebagai puisi terasa dalam unsur rima (pengulangan kata dalam ritma bunyi), yaitu: “Kami Putra dan Putri Indonesia” pada larik pertama, kemudian diulang dalam larik kedua dan ketiga. Sehingga unsur persajakannya terjaga dengan ketat. Pola bersajakannya pun terjaga ketat dengan pola aba-aba-aba dalam susunan bait pertama, kedua maupun ketiga.
Sumpah Pemuda maupun teks Sumpah Pemuda itu sendiri merupakan atau sebagai puisi abadi bangsa dan negara, karena dalam teks puisi Sumpah Pemuda tersebut mempunyai magnetic imajiner dalam 3 (tiga) kutub arus sentral (besar dan terpusat), yakni, sebagai kesadaran kolektif atas Kutub Ketanah-air-an, Kutub (ruh) Kebangsaan, dan Kutub Kebahasaan, yang bernama Indonesia dalam ke-Indonesia-an; dari Sabang hingga Mereuke, menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).














