Sumpah Pemuda sebagai puisi abadi bangsa dan negara akan tinggal posil dalam puing-puingan puisi yang serekan, yang tak lagi mempunyai magnetik atas ketiga kutubnya. Tercerai berai dalam atom atau kemolekulan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Politik sektarian, politik identitas dan politik oligarki sebagai dan atau merupakan tantangan zaman untuk menjaga dan memelihara keajegan Sumpah Pemuda sebagai puisi abadi bangsa dan negara.
Menghisap sebatang lisong/melihat Indonesia Raya,/mendengar 130 juta rakyat,/dan di langit/dua tiga cukong mengangkang,/berak di atas kepala mereka// Matahari terbit/Fajar tiba/Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak/tanpa pendidikan//Aku bertanya,/tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet,/dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan//Delapan juta kanak-kanak/menghadapi satu jalan panjang,/tanpa pilihan,/tanpa pepohonan,/tanpa dangau persinggahan,/tanpa ada bayangan ujungnya. (WS Rendra: Sajak Sebatang Lisong).
Sumpah Pemuda sebagai puisi abadi bangsa dan negara akan lenyap berkeping-keping manakala pemuda dan sistem pendidikannya hanya menghasilkan keterasingan akan kehidupan itu sendiri, seperti seonggok jagung dan seorang pemuda.
Seonggok jagung di kamar/tak akan menolong seorang pemuda/yang pandangan hidupnya berasal dari buku,/dan tidak dari kehidupan./Yang tak terlatih dalam metode,/dan hanya penuh hafalan kesimpulan./Yang hanya terlatih sebagai pemakai,/tetapi kurang latihan bebas berkarya./Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan. (WS. Rendra: Sajak Seonggok Jagung).
Untuk itu, bagaimana kemudian kita semua, terutama pemuda untuk bisa menjaga agar Sumpah Pemuda sebagai puisi abadi bangsa dan negara tidak tercerabut dari akar dan filosofisnya yang melesat jauh ke depan, terbebas dari belenggu dan dikotomistik politisasi sektarian, politisasi identitas ke-sara-an dan politisasi-politisasi lainnya, dimana kini kita tengah berada pada suatu masa dimana politik sebagai panglima dan kekuasaan sebagai Tuhannya.
Kita harus menghentikan dan melenyapkan: Hari-hari yang membusuk. terus membusuk. membusuk ke dalam setiap frase. kata-katanya busuk dan membusuk. kalimat-kalimatnya penuh dengan kebusukan. dan maknanya pun niscaya busuk dan membusuk. terus membusuk. hari-hari yang membusuk. terus membusuk. akankah kita menjadi busuk ataukah kita akan membusuk. terus membusuk. hari-hari yang membusuk. terus membusuk. jangan biarkan membusuk dalam peradaban. dimana kita hidup disuatu masa di masa datang. (O’ushj.dialambaqa, Sajak: Hari-Hari Yang Membusuk, Singaraja, Oktober 2021).******
*) Penulis adalah Penyair, Peneliti sekaligus Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah (PKSPD) dan Accountant Freelance, tinggal di Singaraja. Kontak: 0819 3116 4563. Email: jurnalepkspd@gmail.com














