TJIMANOEK.COM – Saya membulatkan keputusan merubah moto atau semboyan “Catatan Panji Purnama” menjadi “Panji Aksara” agar lebih identik dan bermakna. Itu sekaligus suntikan semangat bagi saya untuk tetap menulis dan terus menulis.
Tulisan ini mungkin menjadi salah satu terpendek yang saya tulis. Alasannya karena, saya hanya ingin semuanya tahu kabar baik ini. Sekaligus akan menjelaskan makna “Panji Aksara“, dua kata dari dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sansekerta.
Moto atau semboyan Panji Aksara diambil dari dua bahasa: Pertama, kata Panji memiliki arti beragam yang dapat ditemui dalam bahasa Sansekerta dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Panji dalam bahasa Sansekerta mempunyai arti “bendera kecil”. Sementara dari KBBI, Panji adalah gelar bangsawan di Jawa, tokoh cerita sastra Nusantara lama yang dalam pengembangannya menunjukan sifat kepahlawanan yang mampu mengatasi segala tantangan.
Kedua, kata Aksara merupakan bahasa sansekerta yang diartikan sebagai “abjad” (bahasa Arab), “huruf”. Selain itu, kata Aksara, a- dan ksara bahasa sansekerta dapat diartikan “tidak (a-) termusnahkan (ksara)”.
Berdasarkan gabungan dua kata atau frasa tersebut di atas, Panji Aksara dapat diartikan, “Seorang tokoh bersifat pahlawan yang mampu mengatasi segala tantangan dengan menggunakan abjad/huruf (tulisan) yang tidak termusnakan— sesuatu yang kekal karena peranannya dalam mendokumentasikan dan mengabadikan suatu peristiwa komunikasi dalam bentuk tulis,”.
(Panji Purnama)














