TJIMANOEK.COM – Saya mendapatkan pesan elektronik mengenai kondisi jalan di berbagai wilayah di Kabupaten Indramayu. Rusak dan berlumpur, itulah kondisi jalanan saat ini. Rupanya hal tersebut sedang menjadi perbincangan masyarakat dan atau citizen—pun di dunia maya (media sosial).
Masing-masing foto (kiriman) saya perhatikan seksama dengan waktu yang tidak sesingkat-singkatnya. Sebab, perlu diperhatian secara detail. Sebagian besar foto itu berkubang, plus ada model yang berswafoto di kubangannya.
Kondisi cuaca di Kabupaten Indramayu memang sering hujan, setidaknya dalam dua minggu ini. Kita juga sudah tahu ada banjir rob di Semarang, Jember, dan banyak daerah lain. Sehingga kondisi aspal jalanan mulai berlubang pun dengan jalan tanah yang berlumpur.
Perbaikan aspal atau kita sebut saja proyek jalan, seperti tidak pernah ada ujungnya. Tidak tahu kapan benar-benar tuntas. Pasti proyek itu akan terus ada, apalagi di jalan Pantura (Pantai Utara Jawa).
Tesis: kapan kualitas jalan kita baik? Ini perlu direnungkan. Jika kualitasnya di atas standar pasti jalanan akan terus mulus dan proyek jalan tidak akan laku.
Kita kembali lagi ke Kab. Indramayu. Kota ini—maksud saya kampung Indramayu, letaknya tidak jauh dari pusat kota yang kita sebut Jakarta (Ibu Kota). Distance Indramayu-Jakarta hanya 200 km. Jika ditempuh dengan roda dua hanya membutuhkan waktu 4 jam 30 menit (sudah termasuk macet). Alternatif lain kita bisa menjangkau Jakarta menggunakan roda empat (mobil) dengan waktu tempuh hanya 2 jam 30 menit melalui toll road (jalan tol).
Bandung? Ya, hanya 170 km ke arah Ibu Kota Provinsi Jawa Barat itu. Dekat kemana-mana, tapi kondisinya tidak mencerminkan dekat ke Ibu Kota dan Ibu Kota Provinsi.
Selain jalan rusak, penerangan jalan di tengah kota saja gelap. Itu mengapa saya lebih suka menyebut Indramayu dengan sebutan kampung bukan kota. Apalagi dengan “Smart City” yang pernah disematkan oleh Kemkominfo pada Kab. Indramayu.
Kesenjangan-kesenjangan yang terjadi saat ini merupakan PR (Pekerjaan Rumah) besar bagi Bupati Indramayu Nina Agustina dan Wakil Bupati Indramayu Lucky Hakim. Bagaimana ekonomi Indramayu ingin tumbuh jika akses masyarakat masih sulit karena rusak dan penerangan tidak ada.
Data yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2021 menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Indramayu hanya tumbuh sebesar 0,58%. Itu menjadikan Indramayu diposisi terendah setelah Kabupaten Subang 2,4% dan Kabupaten Cirebon 2,47%. Di urutan puncak ada Kabupaten Karawang dengan 5,85% pertumbuhan ekonominya.
Soal kemiskinan, Indramayu dengan angka 13,04% menempati posisi tertinggi ke tiga. Jadi, pertumbuhan ekonomi hanya 0,58%, angka kemiskinan tinggi 13,04%, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 67,64 poin— 2 atau 3 tahun sebelumnya hanya disekitaran 59 poin (tidak lulus Sekolah Dasar).
Di samping kesenjangan-kesenjangan yang terjadi itu, Bupati Nina dan Pemerintah Daerah getol menerima penghargaan. Sekat antara kesenjangan dan penghargaan amat kontradiksi. Lantas mana yang lebih nyata: Penghargaan atau Kesenjangan? Pentingkah reputasi di tangan Bupati Nina?
Reputasi Indramayu sedang dipetaruhkan di tangan Bupati Nina. Bagaimana tidak, dia dan pemkab banyak mendapatkan penghargaan, tetapi masih banyak kesenjangan. Kesenjangannya macam-macam—jalan rusak, lampu kota mati, pertumbuhan ekonomi rendah, angka kemiskinan tinggi, IPM disebut salah perhitungan, dan banyak lagi.
Good governance (pemerintahan yang baik) dan clean government (pemerintahan yang bersih) perlu diciptakan agar pemerintahan daerah dan atau penyelenggaraan negara sesuai dengan Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB). Proses menciptakan iklim pemerintahan yang baik itu sangat diperlukan peran serta masyarakat. Hampir semua di setiap undang-undang memberikan amanat kepada masyarakat untuk menjalankan perannya (control social/ kontrol sosial). Tinggal bagaimana urusan moral setiap orang: mau atau tidak menjalankan (ambil bagian) perintah uu sebagai fungsi kontrol sosial. (PANJI PURNAMA)












