Indramayu – Petani Kabupaten Indramayu, lebih tepatnya di Desa Kedokanbunder Wetan, Kecamatan Kedokanbunder, Indramayu, Jawa Barat, berhasil melakukan inovasi untuk menekan hama serangga penghisap cairan tumbuhan atau wereng.
Inovasi tersebut dilakukan oleh Kelompok Tani (Poktan) Sri Trusmi Satu Desa Kedokanbunder Wetan. Ketua Poktan Sri Trusmi Satu, Waklan berhasil mengembangkan inovasi itu untuk menekan Wereng Batang Coklat (WBC) di lahan pertanian setempat.
Waklan melakukan hal tersebut tanpa insktisida (obat hama), melainkan hanya dengan menggunakan Buah Sirih Hutan (piper aduncum l).
Dilansir dari Diskominfo Kab. Indramayu, inovasi yang dilakukan oleh petani Desa Kedokanbunder Wetan tersebut berhasil menggegerkan para petani lain. Sebab, dengan buah sirih hutan saja WBC yang menjadi musuh petani dapat disingkirkan.
Waklan menjelaskan efektifitas penggunaan buah Sirih Hutan untuk pengendalian WBC di lahan pertanian di desanya tersebut bisa mencapai 70 persen. Dengan efektifitas ini, maka tanaman padi bisa terselematkan dari gangguan wereng dan secara otomatis meningkatkan produktivitas tanaman padi.
“Alhamdulilah buah Sirih Hutan cukup efektif dalam penanganan wereng ini. Dampaknya padi semakin meningkat karena gangguan wereng dapat diminimalisir,” kata Waklan, Selasa, (7/9/2021).
Sementara itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Takdir Mulyadi mengatakan, pihaknya terus menggenjot berbagai inovasi yang terus dilakukan oleh para petani dalam peningkatan produktivitas padi dengan menekan laju organisme penganggu tanaman.
“Kelompok Tani Sri Trusmi ini konsisten dalam melakukan inovasi agen hayati dan sudah dirasakan manfaatnya saat ini,” katanya, Selasa, (7/9/2021).
Di samping itu, Camat Kedokanbunder, Andri M. Shaleh mengatakan, pihaknya sangat bangga karena kelompok tani tersebut pernah menjadi yang terbaik pada tingkat nasional.

Laboratorium Kelompok Tani Desa Kedokanbunder Wetan, Indramayu.
Sementara kelompok tani tersebut juga telah mempunyai laboratorium yang sangat modern yang merupakan bantuan dari Pertamina.
“Kita bersyukur punya kelompok tani yang mengembangkan inovasi untuk menekan laju organisme penganggu tanaman dengan berbahan dasar hayati. Apalagi ini menjadi percontohan nasional,” tegas Andri, Selasa, (7/9/2021).
(Panji)















