Indramayu – Bupati Indramayu, Nina Agustina menginginkan banyaknya investasi yang masuk ke Kabupaten Indramayu untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hal itu ia sampaikan dalam acara peluncuran program Pusat Ajar Digital Indramayu (PADI) di Pendopo Indramayu, Sabtu, 27 November 2021.
“Kita konsentrasi untuk pembangunan Indramayu. Selanjutnya investasi di Indramayu akan saya kejar, karena itu salah satunya untuk IPM kita. IPM terdiri dari Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi dan semuanya akan kita jemput,” jelas Nina Agustina saat acara peluncuran PADI di Pendopo Indramayu, Sabtu,(27/11).
Nina mengatakan, suda ada beberapa wilayah di Kab. Indramayu yang diperuntukkan untuk kawasan industri. Tentunya yang diminati oleh para investor yang akan mendirikan usahanya di Indramayu. “Salah satunya di Cikamurang. Selanjutnya di Krangkeng sudah ada Pabrik Sepatu dan di Cikamurang sudah mau ada Pabrik Sepatu. Losarang Insya Allah akan menjadi kawasan Industri, seneng engga,” kata Nina.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah (PKSPD), O’ushj Dialambaqa mengatakan investor akan mau berinvestasi jika ketentuan administrasi termasuk izin itu sangat mudah. “Para investor dan atau akan tertarik berinvestasi bukan kemerduannya bernyanyi dan atau berpropaganda. Itu omong kosong bisa menarik investasi,” kata O’ushj Dialambaqa, Rabu, 1 Desember 2021.
O’ushj kemudian menyebutkan beberapa alasan para investor mau berinvestasi. Dunia investasi dan atau mekanisme pasar investasi akan tertarik jika antara lain:
- Birokrasi tidak bertele-tele menyangkut proses perizinan dan administratifnya;
- Mengedepankan transparansi dan akuntabilitas publik, sehingga ada public trust, bukan.main dadu dan atau petak umpat;
- Ada jaminan rasa aman dan nyaman atas investasi yang ditanam. Tidak ada preman dan atau tukang palak, baik preman dan atau tukang palak dari masyarakat itu sendiri maupun dari kalangan birokrasi, birokrat dan politisi;
- Adanya stabilitas sosial dan politik di tingkat lokal dan atau nasional; dan
- Ada basis data yang benar sebagai bahan analisis portofolio investasi atau bisnis seperti potensi kompetitif daerah, infrastruktur ekonomi, potensi SDM dst.
Ia menyebut, investor akan pergi karena disebabkan ketidaksesuaian harapan. “Nah itu baru para investor akan tertarik. Jika hanya bualan omong kosong, jikapun ada investor yang tertarik dan mencoba masuk, tetap akan hengkang pada akhirnya karena merasa tertipu dan terpedaya oleh lidah tak bertulang atau bibir manis yang bergincu,” jelas O’ushj.
Lanjutnya, “Tidak semua investasi yang masuk bisa menaikkan IPM atau pertumbuhan ekonomi secara signifikan karena trickle down effecknya rendah atau kecil. Maka investasi yang harus menjadi pilihan adalah investasi yang padat modal dan padat karya,” imbuh O’ushj.
Pria yang kerap disapa Ooh itu juga mengatakan, investasi yang mampu menyerap tenaga kerja salah satunya ialah padat karya. “Investasi yang padat karya itulah yang mampu mencerap tenaga kerja masal dalam berbagai level, sehingga adanya perputaran uang yang berimbas langsung pada sektor daya beli yang menjadi elemen IPM, dengan sendirinya akan ada pertumbuhan ekonomi secara makro,” beber Ooh.
“Jika investasi yang masuk hanya padat modal dengan teknologi tinggi, yang akan terjadi disekitarnya adanya lonjakan beban hidup yang terimbas dari adanya investasi tersebut, menjepit ekonomi kecil. Misalnya, dengan adanya Kilang Pertamina, biaya hidup masyarakat kecil meningkat, harga menjadi naik, sehingga menjadi daerah mahal ekonomi, nasi kuning bisa melonjak harganya dari Rp 2ribu-Rp 3ribu bisa menjadi Rp 10ribu per bungkus, dan harga-harga kebutuhan lainnya merangkak menyesusian diri. Pendapatan pas-pasan menjadi terjepit. Itulah konsekuensinya. Belum lagi imbas dari kebijakan makro pemerintah pusat dalam banyak hal ekonomi dan politik,” imbuhnya.
Ia mengaku mendapat laporan tetang berbagai hal mengenai kejahatan yang menyebabkan hengkangnya para investor. “Beberapa bulan yang lalu, PKSPD mendapat laporan dan informasi, semoga tidak benar, bahwa pabrik sepatu investasi Korea Selatan hendak hengkang, karena material apa saja yang ada konon nyaris habis dicuri orang. Nah, itulah problem yang kita sebut rasa aman dan nyaman bagi investor,” ungkap O’ushj.
“Bagaimana Bupati Nina menghadapi masalah tersebut dan apa solusinya. Itu yang harus dipikirkan. Jika Pertamina banyak mabes (maling besi), Pertamina tidak akan hengkang, karena itu BUMN dan itu bisa sebagai proyek sepanjang massa, termasuk jika tidak segera ada zona zero hunian dalam radius tertentu,” imbuhya.
O’ushj menyarankan agar Bupati Indramayu Nina Agustina mengerti soal konsep trickle down effect. “Nah, jika Bupati Nina tidak paham, tidak mengerti bahkan tidak punya konsep itu investasi dan apa itu trickle down effect ya susah dan akan beresiko tinggi dalam kehidupan sosial. Bisanya cuma omong kosong bersila lidah, semanis bibir merah yang bergincu,” kata O’ushj.
“Daya beli hanya merupakan elemen atau satu variabel saja dari IPM. Adanya daya beli sebagai salah satu indikator pertumbuhan ekonomi, tidak serta merta paralel dengan dua variabel lainnnya, yaitu, Pendidikan, dan Kesehatan, atau pertumbuhan ekonomi tidak berbanding lurus dengan IPM, bahkan bisa terjadi menjadi berbanding terbalik dengan IPM sekalipun pertumbuhan ekonomi dan atau masuknya investasi sangat signifikan atau pertumbuhan ekonominya menjadi positif atas masuknya investasi,” pungkas Direktur PKSPD, O’ushj Dialambaqa kepada tjimanoek.com di Indramayu, Rabu, (1/12).
(Tim)















